Hajat Seni Tlatah Bocah 2019

July 22, 2019

Festival Tlatah Bocah 2019 akan diadakan hari Sabtu - Minggu,  24-25 Agustus 2019 di Dusun Bebengan, Sriwedari, Salaman, Kab. Magelang. Festival ini merupakan hajat kesenian yang menampilkan komunitas anak dari berbagai kota diantaranya Banten, Indramayu, Surabaya, Jombang, Purwodadi, Solo, Yogyakarta, Magelang, dll. Ada pula lokakarya-lokakarya, diantaranya shibori, daur ulang sampah menjadi mainan ramah lingkungan, sablon cukil, dll. Pada detik-detik mendekati hajatan selalu saja ada kejutan selain animo masyarakat yang tak terbendung banyaknya. Direktur hajat seni Tlatah Bocah XIII yakni Antok Aprianto dari Sanggar Omah Ngisor, Kecamatan Kajoran, sedangkan sekretariat terletak di Dusun Bebengan, Desa Sriwedari, Kecamatan Salaman selaku tuan rumah.

Hajat seni Tlatah Bocah hadir atas kesadaran dan kepeduliannya akan hak-hak anak, kebhinekaan, keberagaman dan rasa toleransi pada diri anak, serta menjunjung tinggi kearifan lokal. Festival Tlatah Bocah ini dilaksanakan bergilir dari satu kampung ke kampung yang lainnya. Tlatah Bocah berasal dari Bahasa Jawa, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya Ruang Anak.  Maksud dari tujuan ini yaitu menciptakan Ruang Bermain yang sehat bagi anak. Anak dikenalkan sejak dini pada permainan tradisi dan kesenian lokal di daerahnya. Sehingga, kesadaran akan keberagaman budaya terpatri sejak dini. Dengan begitu, diharapkan dapat memacu kecerdasan, kreativitas, dan hubungan sosial anak dengan temannya.

Dunia anak saat ini menjadi tantangan terbesar bagi kebangsaan untuk dapat mentransferkan nilai-nilai keluhuran dan budi pekerti pada anak. Sehingga kelak, kancah kebangsaan ini diisi oleh generasi-generasi emas kebanggaan yang membaktikan kiprah dan kreatifitasnya bagi kemajuan bangsa. Dunia anak hari ini merupakan jembatan penyambung estafet bangsa Indonesia ke depan. Sehingga bangsa ini tetap menjadi bangsa yang luhur, hebat, dan gemilang tak lekang oleh waktu.

Penanaman budaya dan lingkungan yang mendukung bagi pendidikan anak perlu dipupuk, dijaga, dan dikembangkan bersama-sama. Perlu adanya kerjasama yang manis antara stake-holder dan komunitas atau lembaga masyarakat yang peduli terhadap dunia anak. Ruang anak dan kiprah anak sangat penting dikembangkan sehingga memicu kreativitas dan kecerdasan sosial anak terhadap lingkungannya.
Tema Festival tahun 2019 ini yaitu “Wayahe Cancut Taliwanda”. Arti dari tema tersebut yaitu sudah saatnya kita semua segenap masyarakat bergandengan tangan dan memperkuat solidaritas untuk mencintai dunia anak. Kegiatan ini dilaksanakan secara swadaya oleh gabungan dari komunitas anak yang ada di berbagai wilayah. Dan juga terbuka kerjasama dengan pihak yang ingin menyatukan diri dalam gerakan ramah anak ini.

         

Untuk menyelenggarakan event Festival tlatah bocah XIII ini, segenap panitia berprinsip keswadayaan dengan menggalang fundrising (penggalangan dana) berupa cenderamata kaos cantik festival Tlatah Bocah XIII. Hasil dari penjualan kaos ini sepenuhnya akan digunakan untuk pembiayaan festival Tlatah Bocah XIII di Desa Sriwedari, Salaman. Selain itu, panitia juga menerima baju owol-owol (pakaian bekas layak pakai) yang nantinya juga akan dijual lagi saat Festival Tlatah Bocah XIII berlangsung. Barang-barang yang bisa disumbangkan diantaranya : mainan bekas, barang elektronik bekas, sparepart bekas, helm second, aneka barang klithikan, dan lain-lain. Segenap panitia juga berinovasi dengan membuka Lapak Komunitas berupa barang-barang Kriya, kerajinan, dan peralatan berbasis ramah lingkungan karya komunitas, dan juga Pameran lukis karya anak-anak. Untuk pemesanan kaos festival dapat menghubungi Mas Antox 0852-9269-8666

Ada harapan besar dari penyelenggara agar kegiatan ini dapat direspon dan dinikmati oleh banyak pihak, diantaranya masyarakat setempat dan bangsa ini secara umum, dan aspirasinya dapat didengar oleh pemerintah sebagai regulator. Festival Tlatah Bocah XIII juga mulai membuka diri dan mengenalkan setiap program/ event-eventnya yang disiarkan secara realtime melalui websitenya www.tlatahbocah.org . Panitia begitu peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi sehingga akan mengemas diri dan menyesuaikan lokomotif zaman tanpa melunturkan tujuan utama yaitu mewujudkan negeri tercinta menjadi negeri yang ramah anak. [ttd: panitia]

       

Informasi lengkap mengenai Festival Tlatah Bocah dapat menghubungi 0818-0272-3030

www.tlatahbocah.org , twitter / Instagram : @tlatahbocah

Festival Tlatah Bocah yang ke-13 kembali Digelar

July 21, 2019

Dunia anak saat ini menjadi tantangan terbesar bagi kebangsaan untuk dapat mentransferkan nilai-nilai keluhuran dan budi pekerti pada anak. Sehingga kelak, kancah kebangsaan ini diisi oleh generasi-generasi emas kebanggaan yang membaktikan kiprah dan kreatifitasnya bagi kemajuan bangsa. Dunia anak hari ini merupakan jembatan penyambung estafet bangsa Indonesia ke depan. Sehingga bangsa ini tetap menjadi bangsa yang luhur, hebat, dan gemilang tak lekang oleh waktu.

Penanaman budaya dan lingkungan yang mendukung bagi pendidikan anak perlu dipupuk, dijaga, dan dikembangkan bersama-sama. Perlu adanya kerjasama yang manis antara stake-holder dan komunitas atau lembaga masyarakat yang peduli terhadap dunia anak. Ruang anak dan kiprah anak sangat penting dikembangkan sehingga memicu kreativitas dan kecerdasan sosial anak terhadap lingkungannya.


Festival Tlatah Bocah hadir atas kesadaran dan kepeduliannya akan hal itu. Sudah kali ke-13 Festival ini diadakan bergilir dari satu kampung ke kampung yang lainnya. Tlatah Bocah berasal dari Bahasa Jawa, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya Ruang Anak.  Maksud dari tujuan ini yaitu menciptakan Ruang Bermain yang sehat bagi anak. Anak dikenalkan sejak dini pada permainan tradisi dan kesenian lokal di daerahnya. Sehingga, kesadaran akan keberagaman budaya terpatri sejak dini. Dengan begitu, diharapkan dapat memacu kecerdasan, kreativitas, dan hubungan sosial anak dengan temannya.




Tahun ini Festival Tlatah Bocah XIII diadakan pada tanggal 24-25 Agustus 2019 di Dusun Bebengan, Sriwedari, Salaman, Kab. Magelang. Hajatan Festival Tlatah Bocah XIII menjadi agenda kesenian anak yang diikuti lebih dari 50 kelompok kesenian yang berasal dari Banten,.Indramayu, Surabaya, Jombang, Salatiga, Jogja, Magelang, dll. Ada juga lokakarya yang digelar yaitu shibori, daur ulang sampah menjadi mainan ramah lingkungan, sablon cukil, dll. Selalu ada kejutan di setiap detik-detik mendekati festival yang tak terbendung animo masyarakat maupun penampil kesenian lain. Direktur Festival Tlatah Bocah yang ke-13 ini yaitu Muhamad Aprianto dari Sanggar Omah Ngisor dari Kecamatan Kajoran. Sekretariat festival berada di rumah Bambang Sumarsono, lokasi festival.


Kegiatan Festival Tlatah Bocah XIII berprinsip keswadayaan dan keterlibatan partisipasi semua fihak untuk mensukseskan Festival Tlatah Bocah tahun ini 24-25 Agustus di Dusun Bebengan, Sriwedari, Kec. Salaman Magelang. Diantaranya panitia menggelar fundrising / penggalangan dana untuk mendanai Festival Tlatah Bocah XIII ini. Festival Tlatah Bocah XIII berprinsip keswadayaan, kesederhanaan, dan kemandirian dengan menjual cinderamata seperti kaos festival Tlatah Bocah, tottebag festival, topi tlatah bocah, gelang unik, dan Lapak dari teman-teman komunitas untuk menambah uang saku teman-teman. Untuk pemesanan kaos festival dapat menghubungi Mas Antok 085292698666.

Tema Festival tahun 2019 ini yaitu Wayahe Cancut Taliwanda. Arti dari tema tersebut yaitu sudah saatnya kita semua segenap masyarakat bergandengan tangan dan memperkuat solidaritas untuk mencintai dunia anak. Kegiatan ini dilaksanakan secara swadaya oleh komunitas-komunitas anak yang ada di berbagai wilayah. Terbuka pula kerjasama dengan pihak yang ingin menyatukan diri dalam gerakan ramah anak ini.

Ada harapan besar dari penyelenggara agar kegiatan ini dapat direspon dan dinikmati oleh banyak pihak, diantaranya masyarakat setempat dan bangsa ini secara umum, aspirasinya dapat didengar oleh pemerintah sebagai regulator. Festival Tlatah Bocah XIII juga mulai membuka diri dan mengenalkan setiap agendanya diberitakan melalui websitenya www.tlatahbocah.org.

Panitia begitu peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi sehingga akan mengemas diri dan menyesuaikan lokomotif zaman tanpa melunturkan tujuan utama yaitu mewujudkan negeri tercinta menjadi negeri yang ramah anak.

Informasi lengkap mengenai Festival Tlatah Bocah dapat juga menghubungi 081802723030 atau www.tlatahbocah.org , twitter / Instagram : @tlatahbocah

Festival ini terbuka untuk umum. Penonton biasa datang dari desa sekitar, yakni: 
Sengi Dukun Magelang Glagahombo Tegalrejo Plosogede Ngluwar Keditan Ngablak Krinjing Kemiren Srumbung Muntilan Losari Grabag Balerejo Kaliangkrik Tempak Candimulyo Somokaton Mangunrejo Kajoran Congkrang Gondang Mungkid Sidoagung Tempuran Mejing Purworejo Menoreh Salaman Karangkajen Secang Sukodadi Bandongan Tejosari Munggangsari Kedungsari Sidosari Sangen Sidomulyo Tanjung Sugihmas Pucang Tugurejo Jambewangi Kembangkuning Windusari Kalipucang Wonolelo Sawangan Kalijoso Blongkeng Umbulsari Mranggen Selomoyo Kaliurang Ketunggeng Kajangkoso Pakis Jurangombo Selatan Bumirejo Surojoyo Klopo Giritengah Borobudur Pogalan Balekerto Sukorejo Pancuranmas Karangrejo Sidowangi Mangunsari Pabelan Ngepanrejo Kalikuto Kragilan Tembelang Giriwarno Keji Somoketro Salam Muneng Sucen Banjarejo Bojong Ketawang Kadiluwih Bandarsedayu Bawang Pandansari Ngemplak Candisari Banjarharjo Sriwedari Prajeksari Pucungsari Ngargomulyo Pakunden Banaran Majaksingi Sukosari Keningar Tegalarum Kebonlegi Bateh Ketep Purwosari Ngrajek Ngadirojo Panjang Tengah Kramat Utara Lesanpuro Pucanganom Genikan Magersari Pucungrejo Soroyudan Pengarengan Warangan Ngrancah Tanjungsari Pagergunung Bringin Dawung Rejowinangun Gejagan Daleman Kidul Mertoyudan Ngargogondo Kalinegoro Genito Mantingan Sidorejo Wringinputih Kembaran Ngendrokilo Kentengsari Tempursari Girikulon Gunungsari Gondowangi Sambak Tanggulrejo Wonokerto Treko Madyogondo Krumpakan Kwaderan Madukoro Sumurarum Sawangargo Jogonegoro Tuksongo Mangli Wates Tidar Baleagung Sukomulyo



[contributor : madpuji]

GALANG SOLIDARITAS MERAPI

April 24, 2010

Semenjak tahun 2007 Rumah Pelangi dan komunitas2 lereng Merapi menggelar hajat budaya anak-anak TLATAH BOCAH (Bhs Ind.: area ramah anak) dalam bentuk festival selama 1 bulan.

Pada penyelenggaraan tahun 2010 ini berjudul “TUTUR TINULAR: Tuturing Ati Tinular ing Pakarti” (Bercerita Sepenuh Hati Memaknai Pekerti) dimana kegiatannya berupa workshop dongeng, workshop sablon, sarasehan, pasar rakyat, pemutaran film, dan festival seni tradisi anak-anak.

Kegiatan dilaksanakan dari tgl 12 Juni - 11 Juli melibatkan 22 komunitas di Gunung Merapi, Gunung Sumbing, dan Perbukitan Menoreh dari 4 Kabupaten. Lokasi acara berada di Dusun Gowok Pos dan Dusun Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Penggalangan sumber daya penyelenggaraan festival tersebut dengan cara menyediakan cinderamata berupa kaos, tas, dan pin khas TLATAH BOCAH. Selain itu diadakan pengumpulan pakaian layak pakai untuk pasar murah serta pengumpulan buku cerita anak-anak di berbagai kota.

Tertarik berpartisipasi dan ingin membuka posko pakaian dan buku di kota Anda?

Hub:

Email : TlatahBocah@gmail.com
Facebook: Tlatah Bocah
Twitter : @tlatahbocah
Telpon : 0857 – 4342 0558
Kontak : Gunawan Julianto

TLATAH BOCAH #3, sebuah preambule

July 06, 2009

Kawan...

Tiada terasa Tlatah Bocah kali ini memasuki tahun yang ke 3..
Selama 3 tahun ini, alhamdulillah...bisa sukses karena bahu membahunya komunitas-komunitas yang terlibat yang tiada terhitung kan oleh nilai uang. Waktu untuk bekerja dan pikiran semuanya tercurahkan untuk itu...

TLATAH BOCAH 1 - 3 berada di Dusun Gowok Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Terletak di lereng Gunung Merapi dengan ketinggian 900m lebih sedikit diatas permukaan laut.

Arena kegiatan berupa tanah lapang dimana dari situ kita akan dikelilingi 6 gunung menjulang (Merapi, Merbabu, Andong, Sindoro, Sumbing, Menoreh) serta dibalut dinginnya kabut..

Asyik kah??

TLATAH BOCAH, bola salju budaya

June 12, 2009

Merti dusun atau bersih dusun merupakan tradisi rutin yang dilakukan di beberapa desa, terutama di Pulau Jawa. Biasanya kegiatan ini dilakukan 1 tahun sekali dimana harinya ditetapkan oleh kalangan pendiri desa yang bersangkutan. Tujuan utama tradisi ini sebagai sarana berterima kasih karena banyaknya anugerah untuk desa serta sebuah upaya untuk tetap menjaga keselamatan / kemakmuran desa.

Di lereng Merapi, tepatnya di Dusun Gowok Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang ritual ini merupakan perayaan sakral dan terbesar dalam satu tahun dimana semua warga terlibat bergotong royong untuk mensukseskannya. Agenda rutin yang dilaksanakan selama 2 hari tersebut telah berlangsung puluhan tahun.
Semenjak tahun 2007 merti dusun semakin semarak karena warga bekerjasama dengan Rumah Pelangi menjadikannya sebuah rangkaian hajatan yang dinamakan Tlatah Bocah (bhs. Indonesia: Dunia / Area Ramah Anak).

Gethok Tular

March 04, 2008



GETHOK TULAR, where a solidarity begin

Selamat siang kawan-kawan..
terasa lama sekali kita tidak saling kirim email ya..
Bagaimana kabar kawan-kawan..
Tanggal 8 - 9 Maret 2008 (Sabtu - Minggu) ada kemeriahan di kota Muntilan. Kita yakin juga bahwa inilah peristiwa terbesar abad ini..peristiwa paling akbar selama adanya RUMAH PELANGI...
mengapa tidak?
11 (sebelas) tim kesenian anak berkumpul di Dusun Kadirojo, Kelurahan Muntilan untuk bersama-sama menggelar acara yang bernama GETHOK TULAR..
Tercatat 350an anak terlibat dalam acara ini. 1 (satu) sarasehan budaya digelar:
Narasumber 1: DRS. SUSILO NUGROHO (pemeran Den Baguse Ngarso - Bangun Desa TVRI Yogyakarta)
tokoh utama SIDANG SUSILA, teater Gandrik
Narasumber 2: SUBIYANTO, (tokoh seni & sesepuh Dusun Kadirojo)
Moderator: ISMANTO (pematung Merapi, teater Gadhung Melati)

Kenapa GETHOK TULAR.
Itu berkenaan dengan hikmah dari sebuah komunikasi yang merupakan jembatan sebuah persahabatan. Dari sebuah hal yang tadinya tidak tahu menahu, dengan penukaran informasi / gethok tular, seseorang semakin
memahami hal yang lain. Ada solidaritas disana. Oh ya, GETHOK TULAR diambil dari sebuah idiom bahasa Jawa yang kurang lebih berarti MENGINFORMASIKAN ke orang lain..Ketika kita ketemu orang lain memberitahukan sesuatu, dimanapun berada..itulah gethok tular...

Kenapa memilih Kadirojo? Yuupp..karena teman-teman dari 11 tim kesenian tersebut mempercayakannya disanalah tempat kita akan mencoba menggaungkan SOLIDARITAS.. disanalah jaringan akan berkumpul, akan berbagi.. melalui KESENIAN.

Bagaimana 11 tim kesenian tersebut berkumpul?

FOTO-FOTO KEGIATAN TLATAH BOCAH

August 18, 2007




Wayang Kulit
S E M A R B A N G U N J A G A D
Dalang KI ABU KARSONO




Sarasehan
PERAN BUDAYA
DALAM
PENDIDIKAN ANAK

Pembicara 1: Drs. SUSILO NUGROHO - Teater Gandrik
(Den Baguse Ngarso - Bangun Desa - TVRI Yogya)



Pembicara 2:
SITRAS ANJILIN
Pimpinan Padepokan Seni Tjipta Boedaja
(Tutup Ngisor - Merapi)

TLATAH BOCAH, Sebuah Hajat Budaya

August 01, 2007

HARI ANAK.

Secara nasional pemerintah menetapkan tanggal 23 Juli sebagai hari anak. Hal tersebut tentu saja sebagai perwujudan peran dalam berkewajiban melindungi warga negaranya yang masih anak-anak. Kenapa tanggal tersebut harus diperingati? Bukankah setiap hari kita juga harus mencantumkan anak sebagai bagian dari masyarakat. Tentunya maksud penetapan tanggal tersebut adalah supaya gaung ANAK bergema ke seluruh penjuru dan selalu mengingatkan kita untuk menyayanginya tidak hanya pada hari itu saja. Kalau setiap hari ada Hari Anak yang harus diperingati, kasihan dong nanti tidak jadi hal yang istimewa lagi.

Bagaimana pula anak dalam tataran masyarakat dusun?

THX TO PERTIWI

MERTI PERTIWI yang dilaksanakan RUMAH PELANGI pada tanggal 27 Mei 2007 lalu telah berakhir tanpa halangan berarti. Sungguh suatu hal yang luar biasa ketika warga Desa Sitimulyo mempercayai kami untuk melakukan ritual di desa mereka.

Apa sich itu?? Beberapa kawan yang menanyakan apakah itu suatu bentuk untuk memperingati 1 tahun gempa DIY – Jateng?? Kami semua bersepakat TIDAAAKKK…. Gempa kok diperingati..

Pada tanggal 27 Mei 2007 di pagi yang cerah kita melakukan penelusuran pada sepanjang sisi sungai Opak, sungai yang konon satu tahun lalu merupakan sumber bencana alam. Sebuah penelusuran makna bahwa manusia akan selamanya menyusu pada alam. Tanpa adanya bencana pun alam pun kita semua seringkali mendustai kenyataan bahwa kita tergantung padanya. Kerusakan alam yang terjadi wajib kita perbaiki. MERTI PERTIWI merupakan penghormatan pada alam. MERTI PERTIWI adalah ritual pengakuan kita pada kedaulatan alam.

FOTO-FOTO MERTI PERTIWI

June 15, 2007






MERTI PERTIWI

May 25, 2007

Cermati tulisan di surat kabar jika tertulis "Pencinta Alam A telah menaklukkan 3 puncak gunung". Berita lain menyebutkan "Kapal B hilang misterius di tengah keganasan badai laut".

Bukankah itu sebuah bahasa yang menyiratkan keangkuhan kita sebagai manusia? Bagaimana bisa Pencinta Alam MENAKLUKKAN puncakgunung. Bukankah puncak gunung tersebut diam saja ketika didaki tim tersebut tanpa melakukan perlawanan? Bandingkan dengan Pemburu bergulat MENAKLUKKAN harimau.

Pada pernyataan kedua, badai di laut ya seperti itu. Berbahaya apabila kita belum dapat mencumbunya. Manusia sendiri yang sebenarnya belum mampu untuk melewati badai namun saat itu ada di sana.

Alam dibandingkan (apabila dapat) dengan manusia lebih ganas siapa sebenarnya? Manusia lah yang tidak tahu diri. Seringkali merusak alam, mengeksploitasi kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan kelompoknya. Namun, seringkali kita yang menyalahkan alam ketika terjadi apa-apa dengan kehidupan kita.

May 07, 2007

G A L A N G S A H A B A T


RUMAH PELANGI untuk kedua kalinya mengikuti World Book Day (WBD) yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Membaca. Pada WBD tahun lalu, anggota/relawan yang terlibat pada perayaan buku tersebut pada awalnya berjumlah 5 orang. Mereka secara sukarela mengumpulkan uang untuk dapat sampai Jakarta. Yang lebih menakjubkan lagi pada hari terakhir acara saat itu, satu keluarga yang militan di komunitas, yakni (Kundori, Erni, dan anak semata wayangnya Dini Kamilasari) juga datang pagi-pagi untuk bergabung meramaikan acara. Tema yang diusung adalah MENCARI SAHABAT SEJATI dimana RUMAH PELANGI sebagai sebuah lembaga yang berada di pelosok mencari rekan-rekan organisasi lain dengan harapan dapat memberikan spirit bagi perkembangan komunitas. Alangkah sebuah keberuntungan mengikuti acara karena dengan keterlibatan di pagelaran pertama tersebut rekan-rekan sepulang dari Jakarta tersemangati oleh gagasan-gagasan yang dikemas komunitas lain dalam mengembangkan organisasinya.

Tahun ini (WBD ke 2) RUMAH PELANGI menamai stand nya GALANG SAHABAT. Harapan dari penamaan ini adalah penggalangan pertemanan di kalangan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam mengembangkan komunitas-komunitas yang bekerjasama dengan RUMAH PELANGI khususnya komunitas anak yang ada di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Pada dua bulan awal gempa, RUMAH PELANGI
mempunyai kegiatan pendampingan anak di 8 dusun (Somokaton, Karanganom, Cepokojajar, Kuden, Ngampon, Nganyang, Banyakan / Indrakilo, dan Ngablak). Semenjak 1 November 2006 – sekarang komunitas masih melakukan pendampingan di 5 dusun (Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, dan Ngablak). Selain itu pula, RUMAH PELANGI juga melakukan pendampingan dengan anak-anak Dusun Peden, di Desa Baturono, Kecamatan Salam, Kabupaten yang merupakan korban gempa juga.

GALANG SAHABAT terinspirasi oleh semangat teman-teman kecil di dusun-dusun terkena bencana tersebut dalam membuat / merencanakan hal-hal untuk perbaikan kampung mereka. Beberapa diantaranya adalah hasrat membangun perpustakaan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih melalui buku. Sebuah prestasi luar biasa dari anak-anak kampung dalam membangun itu semua terlihat jelas dari berhasilnya mereka membangun ruang perpustakaan di suatu lahan kosong di Dusun Ngampon. Anak-anak secara gotong royong membangun dari nol sampai berdirinya perpustakaan. Meskipun demikian, harapan anak-anak dalam mengembangkan perpustakaannya mendapatkan kendala dalam hal akses buku meskipun mereka sudah berupaya keras mendapatkannya. Oleh karena itu pulalah GALANG SAHABAT didedikasikan pada teman-teman kecil 5 dusun di Desa Sitimulyo tersebut dalam bentuk mengajak masyarakat berpartisipasi mewujudkan impian mereka. Salah satu contoh sederhana yang dapat diwujudkan adalah memberikan buku bacaan bermutu bagi mereka.

RUMAH PELANGI pada WBD ini juga diberi kesempatan untuk menampilkan pertunjukan / happening art berjudul: GATOT BACA pada saat pembukaan Kamis, 26 April, dimana berisi ajakan pada masyarakat untuk selalu membaca dan membaca. Selain itu pula, pada sebuah sesi LITERACY MOVIE pada hari Jumat, 27 April memutar film berjudul ANAK-ANAK ZAMAN. Sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjuangan anak-anak Dusun Ngampon dalam membangun perpustakaan. Mereka secara swadaya berkelompok mewujudkan itu semua.

Pada stand yang ditempati, RUMAH PELANGI menampilkan pula foto-foto kegiatan dengan anak-anak gempa dan juga menampilkan beberapa alat permainan anak-anak tempo dulu, seperti gasing, othok-othok, sirkus kampung, dll. Di samping itu, ada pula suvenir-suvenir kreativitas para relawan yang terlibat seperti halnya: pensil gaul, gelang/kalung, notes, dll.

Pada pintu masuk arena WBD, terdapat 12 karya lukis seorang anggota RUMAH PELANGI, yakni Dini Kamilasari (kelas IV SD) yang dapat dinikmati. Dini sendiri kali ini bersama kedua orangtuanya juga datang dari Muntilan untuk memeriahkan acara yang ada. Pada pembukaan, dia menyumbangkan sebuah lukisan cukup besar berjudul BUKU UNTUK PERUBAHAN untuk Bapak Menteri Pendidikan.

Kali ini jumlah relawan yang berangkat dari Muntilan juga mengalami lonjakan luar biasa, 2 X lipat dari jumlah sebelumnya. 11 orang. Bayangkan? Mereka menabung sedikit demi sedikit hanya demi melihat Jakarta dengan segala keluguannya. Salah seorang relawan, mas Pur, di stand RUMAH PELANGI membuka pula usaha mikro dengan berjualan pulsa elektrik bagi pengunjung, peserta, maupun panitia WBD sehingga memudahkan siapa saja yang kesulitan berkomunikasi karena kehabisan pulsa tanpa meninggalkan ruang. Usaha kecil tersebut diberi nama dengan SRENGENGE. Dalam dua hari ini sudah banyak rekan-rekan dari stand yang lain untuk mempercayakan pengisian pulsanya hanya dengan mengetik: SRENGENGE_spasi_NAMA DIRI_spasi_NAMA STAND dan dikirim ke 0819 1400 5XXX. Cukup sederhana bukan. Tentu saja cukup kreatif pula.

SATU HAL yang paling utama pada stand RUMAH PELANGI adalah adanya sebuah lumbung berbentuk rumah yang didesain untuk memberikan kesempatan pada masyarakat agar berpartisipasi mengembangkan perpustakaan-perpustakaan anak gempa diantaranya dalam bentuk menerima sumbangan buku yang dimasukkan sendiri pada lumbung yang tersedia, lumbung GALANG SAHABAT.

Berkenaan dengan terjadinya bencana alam di sekitar DIY dan Jateng, RUMAH PELANGI melakukan pendampingan di beberapa wilayah yang terkena dampak, dengan beberapa programnya, yakni:


L A N G L A N G N E G E R I
( 1 November 2006 – sekarang )

Merupakan program lanjutan pendampingan anak di 5 dusun (Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, dan Ngablak). Kesemuanya terletak di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul yang berlangsung semenjak 1 November 2006. Kegiatan-kegiatan yang digelar ditujukan pada upaya partisipasi anak dan peningkatan peran serta orang dewasa memberikan akses pada anak-anak.


P O J O K B O C A H
( 7 Juni – 22 Agustus 2006 )

Pasca gempa bumi DIY & Jateng, RUMAH PELANGI bekerja dengan banyak pihak melakukan pendampingan anak di 8 dusun (Dusun Somokaton, Karanganom, Kuden, Cepokojajar, Ngampon, Nganyang, Banyakan/Indrakilo, dan Ngablak). Kesemuanya terletak di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul Kegiatan-kegiatan yang digelar dalam rangka dalam khasanah untuk menghibur dan meningkatkan daya mental anak dalam menghadapi bencana yang telah terjadi


KUMPULE BALUNG PISAH
( 11 Juli 2006 – sekarang )

Selain secara luas menerpa DIY & Klaten, gempa bumi tersebut juga menimpa sebagian kecil wilayah Kabupaten Magelang dimana diantaranya adalah Kecamatan Salam. Bekerja sama dengan YAYASAN TUNAS CENDEKIA pendampingan anak tepatnya di dusun Peden. Kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk menggali pada awalnya adalah psikososial dan dilanjutkan dengan penggalian kreatifitas anak serta potensi anak dalam berperan pada kampungnya.


G U N U N G K U R U M A H K U
( 2 Mei – 27 Mei 2006 )

Peningkatan aktivitas Gunung Merapi di pertengahan April yang menyebabkan warga di kawasan bahaya mengungsi sementara di beberapa tempat penampungan yang disediakan pemerintah setempat. RUMAH PELANGI melakukan kegiatan dengan anak-anak di Tempat Penampungan Akhir Tanjung, yang terletak di Kecamatan Muntilan. Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dari pengelola setempat yakni Dinas Sosial Kabupaten Magelang, FORUM INDONESIA MEMBACA dan 1001 BUKU JAKARTA.

RUMAH PELANGI berdiri pada 7 Maret 2004 oleh sekumpulan pemuda dan memfokuskan dirinya pada pendampingan anak. Selama ini kegiatan rutin berlangsung dengan
anak-anak di Dusun Kadirojo, Desa Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Di tempat yang sama juga merupakan alamat sekretariat komunitas.


Kontak:
GUNAWAN JULIANTO

Sekretariat:
Dusun Kadirojo – Desa Muntilan
Kecamatan Muntilan
JAWA TENGAH 56411

Telpon:
+ 62 818 0272 3030

Email:
RumahPelangi@gmail.com

Blog:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/

October 20, 2006

WAJAH SEPARUH RUPA

Adalah sebuah gurauan yang memasyarakat di lingkungan Yogyakarta bahwasanya orang Bantul itu mukanya belang sebelah. Bagaimana jadi??
Seperti kita kenal bahwa banyak orang Bantul yang melakukan aktifitasnya di kota Yogya. Pagi hari mereka berduyun-duyun ke kota untuk belajar maupun bekerja. Sore hari mereka memenuhi jalan berkendara sepeda (saat ini sepeda motor) untuk pulang ke rumah. Dari Bantul ke Yogya berarti menuju utara, Yogya Bantul menuju selatan. Di pagi hari sinar matahari dari arah timur menerpa sisi kanan tubuh mereka, ketika pulang pun demikian pula. Lagi-lagi sisi kanan tubuh disinari matahari yang menuju peraduannya di sebelah barat.

Mirip dengan ungkapan di atas, seberapa besar sih pengetahuan kita tentang dunia anak?? Kita seringkali menganggap tahu sekali tentang anak-anak dan secara penuh menguasai mereka secara tidak sadar dengan pandangan bahwa mereka wajib berguru dengan kita orang dewasa. Demikian pula yang terjadi dengan relawan-relawan di Rumah Pelangi ketika menyelenggarakan kegiatan bersama anak-anak selama dua setengah bulan di delapan dusun Di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan untuk merespon gempa yang terjadi sebelumnya. Selama itu seminggu tiga kali 18 orang relawan secara rutin menyambangi anak-anak semenjak 17 Juni 2006 - 24 Agustus 2006. Disana, kami malah ternyata malah yang belajar banyak dari anak-anak.

WAJAH SEPARUH RUPA. Itu merupakan sebuah judul pameran foto dan karya anak-anak Bantul yang diselenggarakan di Rumah Pelangi, Dusun Kadirojo, Kelurahan Muntilan, Muntilan. Pameran akan dibuka mulai tanggal 28 Oktober - 20 November 2006. Bagi rekan-rekan yang kebetulan sedang lewat muntilan, silahkan mampir untuk melihat keceriaan anak-anak Bantul ketika sedang bercanda bersama.

Dua hari terakhir pameran akan diselenggarakan pula pemutaran film indie tentang anak-anak Bantul.

Informasi selengkapnya, dapat menghubungi:

Gunawan
di 0818 - 0272 3030.

Letak Dusun Kadirojo sendiri sangat mudah ditempuh dari pusat kota Muntilan, hanya membutuhkan waktu dua menit sampai disana dan karena kecilnya kota muntilan, penduduk kota sangat tahu dan paham tentang arah menuju dusun Kadirojo.

May 23, 2006

MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI

Kegiatan GUNUNGKU RUMAHKU yang berlangsung di Tempat Penampungan Akhir Tanjung Muntilan untuk bercengkerama dengan anak-anak dari Desa Sengi yang mengungsi karena aktivitas Merapi telah berlangsung semenjak hari Minggu, 7 Mei 2006. Setiap hari RUMAH PELANGI datang kesana dan melakukan kegiatan. Yang telah dilakukan adalah: penyediaan layanan pustaka, permainan, kreativitas membuat notes dari kertas daur ulang yang ditempeli pernik-pernik dari biji-bijian, pembuatan bunga-bungaan dari kertas daur ulang, pembuatan gelang dari kertas bekas, pelatihan menggambar dimana anak-anak yang awalnya selalu membuat gambar gunung seperti pada umumnya yang lain sekarang sudah berani menggambar mahluk hidup seperti halnya orang, binatang, dan tumbuhan dalam ukuran besar. Diantara pelatihan menggambar tersebut, salah satu pengisi materi adalah Dini Kamila Sari (21 Mei 2006), kelas 3 SD.
Hasil karya anak-anak setiap kegiatan kreatifitas dan menggambar sekarang semuanya dipajang di aula pengungsian.

Semenjak dimulainya kegiatan GUNUNGKU RUMAHKU, tercatat 103 anak dari Sengi dan 45 anak dari desa Tanjung yang menjadi anggota. Sepanjang 16 hari kegiatan, libur baru satu kali yakni hari Senin, tanggal 15 Mei 2006. RUMAH PELANGI mendampingi anak-anak disana setiap jam 14.30 - 15.30WIB dimana seringkali datang lebih awal dan pasti pulang sekitar magrib.

Selama ini yang telah tercatat berpartisipasi:
- Tentu saja pihak pengelola TPA Tanjung yang menyediakan waktu dan tempat
untuk bercengkerama
- Gramedia Pustaka Utama sebanyak 300 buku cerita
- Elex Media sebanyak 300 buku cerita
- Grasindo sebanyak 500 buku pelajaran
- Gramedia Majalah sebanyak 175 majalah anak
- Forum Indonesia Membaca Rp 500.000,-
- Komunitas 1001buku Jogja meminjamkan 70 buku
- Bapak Kundori membawakan 96 buah pensil
- Komunitas 1001buku Jakarta mengirimkan buku cerita
Tentu saja banyak partisipasi tidak terduga dari rekan-rekan lain yang secara khusus datang menjenguk, berpartisipasi, memberi support dan lain-lain.

Liputan media tentang kegaitan yang sempat terdokumentasikan:
- Kedaulatan Rakyat (9 Mei 2006)
- Berita Nasional (9 Mei 2006)
- Kompas (21 Mei 2006)
- Metro TV (21 Mei 2006)
- TVRI (24 Mei 2006)

Donasi Forum Indonesia Membaca dalam perkembangannya dibelikan pastel sebanyak 48 buah, gunting 24 buah, dan hal-hal lain sehingga sangat membantu menambah materi kreativitas.

RUMAH PELANGI mempunyai blog:
www.RumahPelangi.blogspot.com berisi cerita-cerita berupa roh komunitas dan siapa saja yang mengunjungi situs itu dapat berpartisipasi pada PROGRAM SATU HARI SATU KLIK, yakni dengan mengklik / memencet tombol IKLAN OLEH GOOGLE dimana itu akan menambah poin sehingga RUMAH PELANGI semakin bergairah. Iklan tersebut merupakan suatu kerjasama reklame dimana nantinya Google akan memberikan suatu akumulasi nilai bagi RUMAH PELANGI.

Semua dapat berpartisipasi. Buka situs
www.RumahPelangi.blogspot.com dan klik IKLAN OLEH GOOGLE yang terletak di kolom atas di bawah judul. Cukup satu kali sehari. Selain itu berikan juga kritik dan komentar tentang kami.
Informasi lain dapat pula didapatkan melalui imel: RumahPelangi@yahoo.com ataupun melalui telpon ke:
Gunawan Julianto 0818 - 0272 3030
Gambir Wismantoko 0813 - 1818 1669
Nilam Anis Suwari 0818 - 0424 0161
Bahar Sukoco 0818 - 0419 5259

Berikut ini laporan keuangan sampai tanggal 21 Mei 2006.


LAPORAN KEUANGAN
G U N U N G K U - R U M A H K U

per 21 Mei 2006



PARTISIPASI

20-May
Forum Indonesia Membaca - Jakarta
500,000


PENGELUARAN

29-Apr
fotocopy
8,000
4-May
fotocopy
1,400
7-May
fotocopy
7,250
10-May
fotocopy
2,000
13-May
fotocopy
1,900
16-May
fotocopy
2,200
20-May
fotocopy
500
17-May
fotocopy & buku
2,000
7-May
fotocopy, bantalan stempel & tinta stempel
7,250
22-May
amplop
800
11-May
kertas manila
1,800
15-May
kertas karton
4,850
6-May
lem kayu
10,000
14-May
lem alteco
3,250
16-May
lem kertas
2,800
18-May
cat timbul
Rp 1750,- x 10
17,500
14-May
isi staples
1,000
20-May
pelepah pisang
5,000
20-May
pernik biji - bijian
15,000
22-May
pernik biji - bijian
32,000
20-May
krayon
Rp 1000,- x 40
40,000
14-May
2 spidol, 3 benang streng
13,000
23-May
benang
3,000
20-May
tinta spidol
Rp 4500,- x 3
13,500
17-May
bambu
Rp 7000,- x 3
21,000
14-May
gunting kecil
Rp 3000,- x 24
72,000
20-May
rautan
14,000
21-May
pelubang kertas & isi cutter
10,800
11-May
sewa komputer
5,000
7-May
konsumsi
Rp 2000,- x 30
60,000
14-May
konsumsi
Rp 2000,- x 15
30,000
21-May
konsumsi
Rp 2000,- x 10
20,000
25-May
konsumsi
Rp 1000,- x 11
11,000


Total Pengeluaran 439,800


25-May K A S 60,200
( # enam puluh ribu dua ratus rupiah # )

NB:
Pengeluaran konsumsi pada awalnya berdasarkan jumlah teman-teman Rumah Pelangi yang hadir. Pada perkembangannya hanya dibatasi pembelian konsumsi sebanyak 10 porsi dan diutamakan untuk yang datang tepat waktu serta ikut bekerja pada kegiatan GUNUNGKU RUMAHKU saat itu.

May 22, 2006

KUTU KUTU BUKU
Salah satu agenda RUMAH PELANGI di TPA Tanjung adalah menyediakan buku-buku bacaan untuk para pengungsi. Sesuai pula dengan hakekat manusia untuk selalu ingin tahu, selalu penasaran pada hal-hal yang dirasa baru perpustakaan GUNUNGKU RUMAHKU yang digelar didatangi para pengungsi dan menjadi tempat mereka melepaskan kejenuhan untuk menggali hal-hal baru dari lembaran-lembaran buku. Tercatat 103 anak dari Sengi dan 45 anak dari Desa Tanjung (lokasi dimana TPA terdapat) sebagai anggota. Keanggotaan ini bersifat gratis dan berfungsi pula bagi mereka yang mau mengikuti kegiatan yang digelar RUMAH PELANGI. Belum tentu mereka itu meminjam buku untuk membaca, bahkan tidak jarang mengambil pilihan yang mengagetkan karena pilihan yang tidak tepat dengan usianya. Anak kelas 1 membawa buku bacaan untuk anak usia SMP adalah jamak. Jadi mereka masih sekedar mengikuti trend, temennya pinjam, ikutan pinjam dan memilih yang lebih tebal. tanpa dilihat isinya yang tanpa gambar.

Banyak kejadian menarik ikut selama mendampingi mereka.

Adalah Gochin, seorang anak TK, yang begitu akrab begitu kita datang ke sana. Tingkah lakunya yang berani dan lucu menjadikannya maskot diantara teman-teman Rumah Pelangi. Namun, dia jarang sekali terlihat keseharian di pengungsian karena mengikuti orangtuanya yang lebih sering berada di dusun sendiri. Apabila dia muncul di Tanjung, selalu saja dengan berani menggoda kita.

Uli, demikian nama anak kelas 1 SD Sengi II. Mencuri perhatian ketika pada hari Minggu, 14 Mei 2006 terlihat asyik mengikuti pelatihan menggambar yang saat itu diajarkan oleh mas Latif. Tidak seperti pada umumnya anak-anak yang menggunakan lantai untuk meletakkan kertas, dia menggunakan pangkuan kakinya sebagai alas menggambar. Terlihat sesekali menggaruk, menyibak-nyibakkan rambutnya sendiri ketika menggambar. Pada saat dicermati lebih jauh ternyata dia asyik juga mencari kutu rambut dan begitu mendapatkan segera membunuhnya di lantai.

Ardi atau lebih dikenal dengan nama Gito, kelas 5 di SD yang sama. Seringkali menggunakan akal liciknya untuk mengikuti kegiatan. Berulangkali kedapatan minta rekan-rekannya untuk membantu mengerjakan tugas, bahkan tidak jarang meminta hasil kerja mereka dan diaku sebagai karyanya.

Siti, kelas 3 SD. Diolok rekan-rekannya dengan julukan MAKAN RUMAH..karena nama lengkapnya MAKAROMMAH. Dia sangat membantu perpustakaan. Rajin menata buku yang digelar dan siap pula memasukkan ke dalam dus-dus ketika perpustakaan hari itu selesai.

mbak Yuni, dan temannya para pengungsi dewasa. Sangat rajin membantu untuk ketertiban administrasi.

Beberapa anak usia SD dan SMP dari mereka pada awalnya seringkali mengganggu rekan-rekan lain. Terutama teman yang datang dari Tanjung. Ya, maklumlah masa remaja, mereka selalu saja menggoda perempuan-perempuan yang datang. Namun, sekarang sepertinya sudah agak lain. Mereka aktif terlibat membantu ketika kita melakukan kegiatan. Mengangkat meja, memajang karya di langit-langit, membagikan kertas, pensil, menggelar perpustakaan, dll.

Belum melihat cerita asyik di pengungsian? Klik:
www.RumahPelangi.blogspot.com dan ada kesegaran disana.

Mo berpartisipasi untuk Rumah Pelangi secara online: Klik: IKLAN OLEH GOOGLE yang ada di blog tersebut dan itu berarti menyumbangkan poin bagi Rumah Pelangi.

SUKSESKAN PROGRAM SATU KLIK SATU HARI.

Informasi lebih lanjut:

Gunawan Julianto 0818 - 0272 3030
Gambir Wismantoko 0813 - 1818 1669
Nilam Anis Suwari 0818 - 0424 0161
Bahar Sukoco 0818 - 0419 5259

atau imel ke: RumahPelangi.yahoo.com
sedikit tentang Rumah Pelangi dapat mengklik"

May 19, 2006

FOTO FOTO EKSKLUSIVE

GUNUNGKU - RUMAHKU


Pendataan buku bacaan dari partisipan



Keributan bikin notes



Mencatat buku yang dipinjam



Mencatat anggota baru

May 18, 2006

RUMAH PELANGI ikutan ngungsi



Bagi penduduk sekitar, gunung Merapi merupakan karunia yang luar biasa. Bahkan letusannya diyakini sebagai pertanda cintanya dengan masyarakat. Abu vulkanik yang dihembuskan menyuburkan tanah sekitar. Pasir yang dikeluarkan merupakan berkah tersendiri. Demikian pula bagi masyarakat. Mereka sudah menyatu dengan Merapi. Kejadian gempa, keluarnya lava, munculnya wedhus gembel adalah hal biasa.

Lihatlah kejadian yang berlangsung lebih dari satu bulan ini. Berdasarkan pengamatan pihak-pihak vulkanologis yang menggunakan alat canggih Merapi dinyatakan berbahaya bagi masyarakat sekitar. Namun mereka enggan juga mengungsi. Mereka lebih menggantungkan pada tanda-tanda alam yang dipercayainya akan menuntun mereka kapan harus menjauh dari Merapi untuk sementara.

Kesatuan rohani yang dijalin diantara mereka memberikan sikap hidup pada masyarakatnya untuk mengolah lingkungan dengan bijak. Di kawasan Kaliurang ada suatu rangkaian kejadian menarik yang dapat membuktikan keeratan itu. Mei 2004 ditemukan sarang Elang Hitam yang berisi induk beserta anaknya. Berkenaan dengan itu penduduk sekitar dan berbagai kelompok pencinta satwa liar menjaganya selama 2 bulan lebih dari penjarah. Pada tahun 2005 berdasarkan informasi penduduk, ditemukan lagi sarang Elang Hitam (berisi induk dan anak) dan mereka bekerjasama untuk mengamankannya. Tahun ini, April 2006 warga Kinahrejo memberitahukan keberadaan sarang Elang Hitam (berisi induk dan anak) lagi dan menjaga dari pencuri. Sampai sekarang 3 anakan tersebut semakin membesar dan sudah dapat terbang. Data yang berhasil dikumpulkan memberikan sinyalemen bahwa pengganggu kelestarian alam (hewan dan tumbuhan) malahan orang dari jauh (banyak yang menyebut: MUNTILAN, malu aku jadinya).

Di lingkungan Magelang, juga terbentuk komunitas yang bernama Gerakan Masyarakat Cinta Air. Hal ini menyikapi banyak hilangnya mata air dikarenakan aktivitas eksploitasi besar-besaran terutama pasir menggunakan alat-alat berat. Siapa lagi pengusaha yang mampu mendatangkan modal sebesar itu kalau bukan orang dari jauh...(red. bukan penduduk Merapi).

Kekayaan budaya Merapi jangan pula dianggap remeh. Tersebutlah seniman-seniman tradisi yang dalam kesehariannya selalu bercengkerama dengan seni. Seni dipandangnya sebagai jalan hidup, bukan jalan untuk mendapatkan kekayaan. Pandangan seperti itulah yang menyebabkan kesenian masih eksis disana. Di satu kampung seringkali tidak hanya satu jenis kesenian yang mampu mereka bawakan.

Satu kekhawatiran adalah dampak dari perkembangan alat komunikasi terutama televisi yang begitu mudah didapatkan dan memberikan informasi secara vulgar. Di lain sisi di tengah maraknya literasi di Indonesia, pertumbuhan media tersebut sangatlah rendah di pelosok gunung.

Keprihatinan itu memberikan inisiatif pada kami dari RUMAH PELANGI untuk menyelenggarakan GUNUNGKU RUMAHKU. Yakni sebuah rintisan perpustakaan bagi lingkungan Magelang, khususnya Merapi. Ide dasarnya memberikan alternatif informasi melalui media buku pada masyarakat serta membentuk komunitas yang tetap cinta pada tanah dan air yang telah menghidupinya.

Berawal pada hari Minggu tanggal 7 Mei 2006 bertempat di Tempat Pengungsian Akhir Tanjung, Muntilan melakukan aktivitas bermain bersama anak-anak pengungsi, melakukan kreativitas tangan, serta membuka perpustakaan di pengungsian. Setiap hari GUNUNGKU RUMAHKU buka di tempat tersebut. Saat ini pengelolaan sudah mulai dilimpahkan pada anak-anak pengungsi seperti administrasi peminjaman-pengembalian buku, penataan buku, pendaftaraan peserta kegiatan, dll. Minggu besok, tanggal 21 Mei akan dilangsungkan HARKITNAK (Hari Kebangkitan Anak) yakni berupa lomba menggambar secara berkelompok yang masing-masing terdiri dari 5 orang menggunakan media kertas manila ukuran besar (1/2 plano) dan alat pensil serta krayon. Tentu saja untuk menyemangati diberikan suatu penghargaan bagi mereka yang dinyatakan terbaik oleh dewan juri serta satu orang sebagai peserta favorit. Penyelenggarakan HARKITNAK diupayakan oleh anak-anak. Orang dewasa hanya bersifat memandu.

Satu hal yang tidak dapat terlepas disini adalah akrabnya anak pengungsi dengan anak-anak dari desa Tanjung sendiri. Mereka saling kenal dan bermain bersama. Tercatat di buku anggota GUNUNGKU RUMAHKU sebanyak 90 anak pengungsi (terutama dari Dusun Gowok Pos) dan 38 anak desa Tanjung.

Adakah rekan-rekan yang tertarik untuk berpartisipasi mensukseskan GUNUNGKU RUMAHKU?

Saat ini buku bacaan yang sudah dikelola anak-anak tersebut sejumlah 370 buku dan 125 majalah anak yang merupakan sumbangan dari Gramedia Pustaka Utama, Gramedia Majalah Yogyakarta, dan komunitas 1001buku Jogja. Selain itu masih terdapat buku sumbangan dari Elex Media Yogyakarta serta Grasindo Yogyakarta yang sedang disortir. Ada pula partisipasi dari 1001buku Jakarta yang sedang dalam perjalanan.

Forum Indonesia Membaca, Jakarta melalui mbak Aan Sriyani memberikan bantuan Rp 500.000,- untuk kesuksesan acara-acara yang akan diselenggarakan. Pak Ndori, seorang rekan di Muntilan membelikan pensil sebanyak 96 buah dan 50 penghapus. Rumah Pelangi sendiri mempunyai stok 1 rim kertas hvs ukuran A3 yang selama ini telah digunakan untuk menggambar. 200 bahan dasar notes dan pernik biji-bijian yang telah digunakan berkreasi mereka.

Selama ini pula ternyata banyak ide-ide yang belum tergarap karena kemampuan sumber daya yang ada. Ada banyak kerajinan tangan yang akan ditularkan pada mereka namun membutuhkan banyak gunting, alat pewarna, dan lain-lain.

Bagi kami, dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan selama ini bukan dalam bentuk fisik jeprat-jepret (hee..hee.. karena memang tidak punya) namun dokumentasi nurani, yakni ketika anak-anak senang ikut berkegiatan, anak-anak mencatat dalam memorinya apa saja yang telah dilakukan bersama.

Apabila tertarik memberikan ide, kritik, saran ataupun mau berpartisipasi dalam bentuk lain, dapat menghubungi: RumahPelangi@yahoo.com

ataupun telpon ke:

- Gunawan: 0818 - 0272 3030

- Gambir Wismantoko: 0813 - 1818 1669

- Nilam Anis Suwari: 0818 - 0424 0161

- Bahar Sukoco: 0818 - 0419 5259.

May 01, 2006

PENGACARA2 MTL MERAMBAH JKT
Tidak benar apabila selama ini pengacara hanya didominasi oleh etnis tertentu. Pada situasi krisis seperti ini dimana-mana banyak pengacara dadakan. Kalau diruntut mendalam banyak pakar mengatakan bahwa hal tersebut dikarenakan kekayaan Indonesia yang melimpah sehingga penduduk tidak perlu bekerja keras untuk hidup. Lain halnya dengan negeri samurai dimana ada mendidik anak-anaknya disiplin, menghargai apa yang ada dengan suatu ungkapan yang kurang lebih begini: SATU BERAS YANG JATUH DI JALAN JANGANLAH DISIA-SIAKAN. Sangatlah kontras dengan lagu Koes Plus yang berjudul: KOLAM SUSU..

Itu terjadi pula di lingkungan kami, muntilan bahkan untuk lingkungan yang lebih dekat dengan keseharian kami, Rumah Pelangi. Penggiat yang selama ini rajin adalah mereka-mereka yang berstatus pengacara, lha bagaimana tidak...kalau dirumah malahan dimarahi orang tua...ya ngluyur aja di Rumah Pelangi dengan semangat tinggi. Itu pula yang menyebabkan ada isu-isu sinis tentang keberadaan Rumah Pelangi.

Menjelang acara World Book Day di Senayan, Jakarta, kawan-kawan disini yang terlibat untuk itu baru pula merasakan perlunya bergerak untuk sekedar mendapat uang.

Adalah Purnomo, seorang remaja usia 19tahunan lulusan SMP dan tinggal di Dusun Kadirojo, dusun tempat komunitas berada. Awalnya dia mempunyai pekerjaan sebagai penjual pasir Merapi dengan cara menjadi kernet angkutan pasir dan menawarkan/menerima pesanan pasir. Tepatnya mulai kapan, dia sudah tidak menekuni kegiatan tersebut dan sering sekali dalam keadaan siap siaga apabila diperlukan. Ataukah berhentinya dia karena terlalu akrab bergaul dengan kawan-kawan disini dan membaca buku tentang Lingkungan? Ketika ada agenda WBD dan kutawarkan kepada siapa saja yang berminat untuk ikut, dia termasuk yg pertama mengacungkan jari. Namun apa daya, wong tidak punya uang saku cukup. Beberapa hari ini, secara kebetulan pula di jalan ujung masuk dusun didirikan pos ojek. Dia rutin nongkrong disana untuk menawarkan jasa ojek. Berapa kah uang seharian yang didapat kemarin, hari Minggu 26 Januari 2006 semenjak jam 9 pagi sampai menjelang magrib...Rp 5000,-

Lain halnya dengan Ichwan. Pekerjaan sehari-hari adalah membuat kerajinan batu berupa lampion taman dan sebagainya. Kegiatan di luar itu adalah mengelola perpustakaan di Madrasah tempat kampungnya berada dan sering tidur disana. Sangat getol mengupayakan adanya buku-buku baru. Ichwan ini selalu bergelora apabila diminta membantu Rumah Pelangi ketika ada kegiatan, ada pada masa-masa kritis..
Sebenarnya beberapa hari lalu dia mendapatkan proyek untuk membuat kerajinan batu seperti biasa, namun karena semangat untuk datang ke kota besar, kota nomer 1 di indonesia, proyek kerajinan tersebut dialihkan ke temannya.

Sebagai tambahan lain adalah Purnomo dan Desi (cewek atau cowok hayoo) pernah pula memenangi juara pertama sebuah kejuaraan terbuka di DIY yang diselenggarakan oleh suatu institusi di Yogyakarta yang nota bene lain wilayah administratif dengan Muntilan. Apakah kejuaraan itu.....silahkan tunggu imel-imel berikutnya....

oh ya, berkenaan dengan surat sebelumnya tentang dimungkinkannya partisipasi rekan lain untuk kesuksesan Rumah Pelangi merambah Jakarta sudah bergaung dan ada teman yang menawarkan kameranya untuk digunakan. Terima kasih untuk itu. Ada pula Rumah Pelangi juga menyediakan tempat dan waktu bagi siapa saja yang mau menunggu stan atau melakukan kegiatan berkenaan dengan stan tersebut. Pilihan waktu dapat menyesuaikan.

Ingin tau sedikit cerita tentang Rumah Pelangi. Coba klik aja:
www.rumahpelangi.blogspot.com

masih penasaran pula dengan Rumah Pelangi? Makanya hadir dong di acara World Book Day, 2 - 5 Maret 2006 di Kantor DikNas, Senayan, Jakarta. Ingat baik-baik petunjuk hurufnya: R - U - M - A - H P - E - L - A - N - G - I. Jangan sampai terlewatkan. Adapun disana kami melakukan pameran lukisan DINI KAMILASARI bertema: MENCARI SAHABAT SEJATI...
Banyak pula pernik-pernik cantik buatan teman-teman Rumah Pelangi yang sangat sayang apabila tidak dikoleksi...

sampai ketemu di senayan...

March 31, 2006


PIN EDISI SPESIAL
(Dini Kamila Sari)