M E R T I P E R T I W I
Cermati tulisan di surat kabar jika tertulis "Pencinta Alam A telah
menaklukkan 3 puncak gunung". Berita lain menyebutkan "Kapal B hilang
misterius di tengah keganasan badai laut".
Bukankah itu sebuah bahasa yang menyiratkan keangkuhan kita sebagai
manusia? Bagaimana bisa Pencinta Alam MENAKLUKKAN puncakgunung.
Bukankah puncak gunung tersebut diam saja ketika didaki tim tersebut
tanpa melakukan perlawanan? Bandingkan dengan Pemburu bergulat
MENAKLUKKAN harimau.
Pada pernyataan kedua, badai di laut ya seperti itu. Berbahaya apabila
kita belum dapat mencumbunya. Manusia sendiri yang sebenarnya belum
mampu untuk melewati badai namun saat itu ada di sana.
Alam dibandingkan (apabila dapat) dengan manusia lebih ganas siapa
sebenarnya? Manusia lah yang tidak tahu diri. Seringkali merusak alam,
mengeksploitasi kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan
kelompoknya. Namun, seringkali kita yang menyalahkan alam ketika
terjadi apa-apa dengan kehidupan kita.
Perumpaan yang mirip terjadi pada saat bencana alam. Kita mengenal
bahwa ada dua kemungkinan untuk itu. Karena perilaku kita sebagai
manusia yang tamak, sehingga seringkali alam menghancurkan kehidupan.
Banjir, tanah longsor bisa terjadi karena ulah manusia. Di lain pihak,
adakalanya tiba-tiba alam tanpa kita pengaruhi, merubah kehidupan
juga. Semisal gempa bumi, gunung meletus.
Apakah kita akan marah dengan alam atas semua itu? Tentu saja tidak.
Siapa diantara kita yang tidak tergantung pada alam. Siapa diantara
kita yang hidup tanpa alam? Kita bukan apa-apa di alam ini.
Sebagai sebuah bentuk penghormatan pada alam, RUMAH PELANGI pada hari
Minggu, 27 Mei 2007 besok semenjak pagi - sore akan melaksanakan
ritual untuk bercengkerama dengan alam. Dilaksanakan di sepanjang
tepian Sungai Opak di wilayah Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan,
Kabupaten Bantul dimana sungai Opak bagian bawah dikenal sebagai pusat
gempa bumi yang terjadi tepat 1 tahun yang lalu dan di sepanjang
alirannya merupakan jalur gempa.
Seperti apakah ritual tersebut. Dengan judul MERTI PERTIWI, membangun
hidup selaras dengan alam, bersama anak-anak kami melakukan kegiatan
outbound. Sebuah prosesi untuk mengenal alam, menghormati alam,
mencintai alam, dan memelihara alam. Tentu saja kegiatan yang
mempunyai dampak sosial juga seperti rasa kesetiakawanan,
gotongroyong, dan membangun kekompakan tim. Tim yang mengikuti
berjumlah 9 tim dimana masing-masing berisi 10 anak dari dusun-dusun
di Desa Sitimulyo.
Dimulai dengan pembukaan acara oleh Bapak Kepala Desa Sitimulyo,
anak-anak dari garis start di TPA Kuden membawa pohon untuk ditanam di
beberapa tempat sepanjang jalur kegiatan. Kemudian melalui beberapa
pos anak-anak melakukan permainan-permainan tradisi menuju pos
selanjutnya. Ada pula pos FLYING FOX (meluncur dengan tali dan
pengamannya) di atas sungai Opak. Tidak tanggung-tanggung untuk
kegiatan ini kami menggunakan kabel baja sebagai talinya. Setelah itu
anak-anak dapat mengikuti aliran irigasi tanpa berbicara satu dengan
yang lain menggunakan ban bekas (TAPA BISU), lalu melakukan RAPPLING
(menuruni ketinggian dengan tali juga) menuju tempat finish, sebuah
hutan rakyat di daerah Lemah Abang, Desa Sitimulyo. Di tempat ini
anak-anak disambut pula dengan alat-alat permainan tradisional karena
mereka akan melakukan estafet menggunakan: kaki seribu, jangkungan,
mobil-mobilan,othok-othok dll.
Di tempat finish disuguhkan pula hiburan / pentas seni persembahan
anak-anak dusun sekitar dan mengundang bintang tamu permainan JIMBE
serta TEATER ANAK dari Anak Wayang Indonesia.
Masih kurang puas? Selama kegiatan, makanan yang disediakan adalah
makanan tradisi dengan meminimalisir penggunaan plastik. Demikian pula
permainan outbound nya menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan,
berbahan kayu, bambu, daun-daunan, dll.
Sebuah acara yang sayang dilewatkan. Silahkan datang teman-teman...
Panitia juga membuka kesempatan partisipasi bagi fotografer-fotografer
untuk terlibat pada acara tersebut karena direncanakan setiap tim anak
akan diikuti oleh fotografer sepanjang perjalanan.
Kepanitiaan dikomandoi oleh Kundori, dan melibatkan teman-teman dari 6
Dusun Di Desa Sitimulyo (Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, Banyakan
3, Ngablak) serta teman-teman relawan dari Rumah Pelangi.
Tertarik mengetahui lebih lanjut? Hubungi: Gunawan Julianto selaku
humas acara di 0818 0272 3030.
=============================================
T E R M O F R E F E R E N C E
M E R T I P E R T I W I
S i t i m u l y o , 2 7 M e i 2 0 0 7
T E M A
P E R S A H A B A T A N A L A M d a n S E S A M A
S A S A R A N
Peningkatan kesadaran lingkungan dan kekerabatan pada anak
T U J U A N
Mengenalkan anak pentingnya air bagi kehidupan
Mengenalkan anak pentingnya tanaman bagi kehidupan
Menanamkan kelestarian lingkungan pada anak
Menanamkan pelestarian seni budaya lokal
Meningkatkan kerjasama diantara anak
Meningkatkan kemandirian anak
K E G I A T A N
Outbound dan Pentas Seni
T E M P A T
Sepanjang pinggiran sungai Opak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan,
Kabupaten Bantul
H A R I / T A N G G A L
Minggu / 27 Mei 2007
D U R A S I
9 jam ( 07.00 - 16.00 WIB )
P E S E R T A
Outbound
Anak-anak dari 6 dusun Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan
( Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, Banyakan, Ngablak )
90 anak
Laki dan perempuan proporsional
Pentas seni
TEATER ANAK WAYANG INDONESIA, Yogyakarta
Partisipan dari Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan
Pelaku pentas seni dan kru = 75 anak
K O N S U M S I
Jajan Pasar / tradisional
Tempe bacem, tahu bacem, jadah, permen jahe, arem-arem,
urap/kluban, camcao, dll.
A L A T D A N P E R L E N G K A P A N
Tradisional dan ramah lingkungan
Mobil-mobilan kayu, kaki seribu, egrang, kendi, dll.
K A L P A T A R U
Rangkaian harapan anak terhadap terhadap lingkungan sekitar yang
digantungkan pada ranting pohon di akhir perjalanan
C I N D E R A M A T A
Permainan anak tradisional (gasing, othok-othok, yoyo, dll.)
K E P A N I T I A A N
PANITIA PENGARAH
Iswahyudi
Herman Wahyaka
MANAJER PROGRAM
Kundori
KOORDINATOR-KOORDINATOR
KEUANGAN
Gambir Wismantoko
OUTBOUND
Rahmat Nurgianta
Bambang
PENTAS SENI
Cholifatul Ridwan
Tugiman
HUBUNGAN MASYARAKAT
Gunawan Julianto
PERIJINAN DAN UNDANGAN
Dyah Ayu Kusumaningsih
Bagus
DATA DAN DOKUMENTASI
Brahms Jati Binawan
KESEHATAN / P3K
Sri Ulie Rakhmawati
KONSUMSI
Erni Yuniatiningsih
Suryaningsih
TRANSPORTASI
Suryo Purnomo
Novendi
PERALATAN PERLENGKAPAN
Muhammad Bahar Sukoco
Budi
K O N T A K
M E R T I P E R T I W I
Kundori ( + 62 815 658 8030 )
R U M A H P E L A N G I
Gunawan Julianto ( + 62 818 0272 3030 )
email: RumahPelangi@gmail.com
Lanjutkan...
May 25, 2007
Posted by
Rumah Pelangi
at
3:14 PM
0
comments
May 07, 2007
G A L A N G S A H A B A T
RUMAH PELANGI untuk kedua kalinya mengikuti World Book Day (WBD) yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Membaca. Pada WBD tahun lalu, anggota/relawan yang terlibat pada perayaan buku tersebut pada awalnya berjumlah 5 orang. Mereka secara sukarela mengumpulkan uang untuk dapat sampai Jakarta. Yang lebih menakjubkan lagi pada hari terakhir acara saat itu, satu keluarga yang militan di komunitas, yakni (Kundori, Erni, dan anak semata wayangnya Dini Kamilasari) juga datang pagi-pagi untuk bergabung meramaikan acara. Tema yang diusung adalah MENCARI SAHABAT SEJATI dimana RUMAH PELANGI sebagai sebuah lembaga yang berada di pelosok mencari rekan-rekan organisasi lain dengan harapan dapat memberikan spirit bagi perkembangan komunitas. Alangkah sebuah keberuntungan mengikuti acara karena dengan keterlibatan di pagelaran pertama tersebut rekan-rekan sepulang dari Jakarta tersemangati oleh gagasan-gagasan yang dikemas komunitas lain dalam mengembangkan organisasinya.
Tahun ini (WBD ke 2) RUMAH PELANGI menamai stand nya GALANG SAHABAT. Harapan dari penamaan ini adalah penggalangan pertemanan di kalangan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam mengembangkan komunitas-komunitas yang bekerjasama dengan RUMAH PELANGI khususnya komunitas anak yang ada di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Pada dua bulan awal gempa, RUMAH PELANGI
mempunyai kegiatan pendampingan anak di 8 dusun (Somokaton, Karanganom, Cepokojajar, Kuden, Ngampon, Nganyang, Banyakan / Indrakilo, dan Ngablak). Semenjak 1 November 2006 – sekarang komunitas masih melakukan pendampingan di 5 dusun (Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, dan Ngablak). Selain itu pula, RUMAH PELANGI juga melakukan pendampingan dengan anak-anak Dusun Peden, di Desa Baturono, Kecamatan Salam, Kabupaten yang merupakan korban gempa juga.
GALANG SAHABAT terinspirasi oleh semangat teman-teman kecil di dusun-dusun terkena bencana tersebut dalam membuat / merencanakan hal-hal untuk perbaikan kampung mereka. Beberapa diantaranya adalah hasrat membangun perpustakaan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih melalui buku. Sebuah prestasi luar biasa dari anak-anak kampung dalam membangun itu semua terlihat jelas dari berhasilnya mereka membangun ruang perpustakaan di suatu lahan kosong di Dusun Ngampon. Anak-anak secara gotong royong membangun dari nol sampai berdirinya perpustakaan. Meskipun demikian, harapan anak-anak dalam mengembangkan perpustakaannya mendapatkan kendala dalam hal akses buku meskipun mereka sudah berupaya keras mendapatkannya. Oleh karena itu pulalah GALANG SAHABAT didedikasikan pada teman-teman kecil 5 dusun di Desa Sitimulyo tersebut dalam bentuk mengajak masyarakat berpartisipasi mewujudkan impian mereka. Salah satu contoh sederhana yang dapat diwujudkan adalah memberikan buku bacaan bermutu bagi mereka.
RUMAH PELANGI pada WBD ini juga diberi kesempatan untuk menampilkan pertunjukan / happening art berjudul: GATOT BACA pada saat pembukaan Kamis, 26 April, dimana berisi ajakan pada masyarakat untuk selalu membaca dan membaca. Selain itu pula, pada sebuah sesi LITERACY MOVIE pada hari Jumat, 27 April memutar film berjudul ANAK-ANAK ZAMAN. Sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjuangan anak-anak Dusun Ngampon dalam membangun perpustakaan. Mereka secara swadaya berkelompok mewujudkan itu semua.
Pada stand yang ditempati, RUMAH PELANGI menampilkan pula foto-foto kegiatan dengan anak-anak gempa dan juga menampilkan beberapa alat permainan anak-anak tempo dulu, seperti gasing, othok-othok, sirkus kampung, dll. Di samping itu, ada pula suvenir-suvenir kreativitas para relawan yang terlibat seperti halnya: pensil gaul, gelang/kalung, notes, dll.
Pada pintu masuk arena WBD, terdapat 12 karya lukis seorang anggota RUMAH PELANGI, yakni Dini Kamilasari (kelas IV SD) yang dapat dinikmati. Dini sendiri kali ini bersama kedua orangtuanya juga datang dari Muntilan untuk memeriahkan acara yang ada. Pada pembukaan, dia menyumbangkan sebuah lukisan cukup besar berjudul BUKU UNTUK PERUBAHAN untuk Bapak Menteri Pendidikan.
Kali ini jumlah relawan yang berangkat dari Muntilan juga mengalami lonjakan luar biasa, 2 X lipat dari jumlah sebelumnya. 11 orang. Bayangkan? Mereka menabung sedikit demi sedikit hanya demi melihat Jakarta dengan segala keluguannya. Salah seorang relawan, mas Pur, di stand RUMAH PELANGI membuka pula usaha mikro dengan berjualan pulsa elektrik bagi pengunjung, peserta, maupun panitia WBD sehingga memudahkan siapa saja yang kesulitan berkomunikasi karena kehabisan pulsa tanpa meninggalkan ruang. Usaha kecil tersebut diberi nama dengan SRENGENGE. Dalam dua hari ini sudah banyak rekan-rekan dari stand yang lain untuk mempercayakan pengisian pulsanya hanya dengan mengetik: SRENGENGE_spasi_NAMA DIRI_spasi_NAMA STAND dan dikirim ke 0819 1400 5XXX. Cukup sederhana bukan. Tentu saja cukup kreatif pula.
SATU HAL yang paling utama pada stand RUMAH PELANGI adalah adanya sebuah lumbung berbentuk rumah yang didesain untuk memberikan kesempatan pada masyarakat agar berpartisipasi mengembangkan perpustakaan-perpustakaan anak gempa diantaranya dalam bentuk menerima sumbangan buku yang dimasukkan sendiri pada lumbung yang tersedia, lumbung GALANG SAHABAT.
Berkenaan dengan terjadinya bencana alam di sekitar DIY dan Jateng, RUMAH PELANGI melakukan pendampingan di beberapa wilayah yang terkena dampak, dengan beberapa programnya, yakni:
L A N G L A N G N E G E R I
( 1 November 2006 – sekarang )
Merupakan program lanjutan pendampingan anak di 5 dusun (Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, dan Ngablak). Kesemuanya terletak di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul yang berlangsung semenjak 1 November 2006. Kegiatan-kegiatan yang digelar ditujukan pada upaya partisipasi anak dan peningkatan peran serta orang dewasa memberikan akses pada anak-anak.
P O J O K B O C A H
( 7 Juni – 22 Agustus 2006 )
Pasca gempa bumi DIY & Jateng, RUMAH PELANGI bekerja dengan banyak pihak melakukan pendampingan anak di 8 dusun (Dusun Somokaton, Karanganom, Kuden, Cepokojajar, Ngampon, Nganyang, Banyakan/Indrakilo, dan Ngablak). Kesemuanya terletak di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul Kegiatan-kegiatan yang digelar dalam rangka dalam khasanah untuk menghibur dan meningkatkan daya mental anak dalam menghadapi bencana yang telah terjadi
KUMPULE BALUNG PISAH
( 11 Juli 2006 – sekarang )
Selain secara luas menerpa DIY & Klaten, gempa bumi tersebut juga menimpa sebagian kecil wilayah Kabupaten Magelang dimana diantaranya adalah Kecamatan Salam. Bekerja sama dengan YAYASAN TUNAS CENDEKIA pendampingan anak tepatnya di dusun Peden. Kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk menggali pada awalnya adalah psikososial dan dilanjutkan dengan penggalian kreatifitas anak serta potensi anak dalam berperan pada kampungnya.
G U N U N G K U R U M A H K U
( 2 Mei – 27 Mei 2006 )
Peningkatan aktivitas Gunung Merapi di pertengahan April yang menyebabkan warga di kawasan bahaya mengungsi sementara di beberapa tempat penampungan yang disediakan pemerintah setempat. RUMAH PELANGI melakukan kegiatan dengan anak-anak di Tempat Penampungan Akhir Tanjung, yang terletak di Kecamatan Muntilan. Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dari pengelola setempat yakni Dinas Sosial Kabupaten Magelang, FORUM INDONESIA MEMBACA dan 1001 BUKU JAKARTA.
RUMAH PELANGI berdiri pada 7 Maret 2004 oleh sekumpulan pemuda dan memfokuskan dirinya pada pendampingan anak. Selama ini kegiatan rutin berlangsung dengan
anak-anak di Dusun Kadirojo, Desa Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Di tempat yang sama juga merupakan alamat sekretariat komunitas.
Kontak:
GUNAWAN JULIANTO
Sekretariat:
Dusun Kadirojo – Desa Muntilan
Kecamatan Muntilan
JAWA TENGAH 56411
Telpon:
+ 62 818 0272 3030
Email:
RumahPelangi@gmail.com
Blog:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/
Lanjutkan...
Tahun ini (WBD ke 2) RUMAH PELANGI menamai stand nya GALANG SAHABAT. Harapan dari penamaan ini adalah penggalangan pertemanan di kalangan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam mengembangkan komunitas-komunitas yang bekerjasama dengan RUMAH PELANGI khususnya komunitas anak yang ada di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Pada dua bulan awal gempa, RUMAH PELANGI
mempunyai kegiatan pendampingan anak di 8 dusun (Somokaton, Karanganom, Cepokojajar, Kuden, Ngampon, Nganyang, Banyakan / Indrakilo, dan Ngablak). Semenjak 1 November 2006 – sekarang komunitas masih melakukan pendampingan di 5 dusun (Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, dan Ngablak). Selain itu pula, RUMAH PELANGI juga melakukan pendampingan dengan anak-anak Dusun Peden, di Desa Baturono, Kecamatan Salam, Kabupaten yang merupakan korban gempa juga.
GALANG SAHABAT terinspirasi oleh semangat teman-teman kecil di dusun-dusun terkena bencana tersebut dalam membuat / merencanakan hal-hal untuk perbaikan kampung mereka. Beberapa diantaranya adalah hasrat membangun perpustakaan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih melalui buku. Sebuah prestasi luar biasa dari anak-anak kampung dalam membangun itu semua terlihat jelas dari berhasilnya mereka membangun ruang perpustakaan di suatu lahan kosong di Dusun Ngampon. Anak-anak secara gotong royong membangun dari nol sampai berdirinya perpustakaan. Meskipun demikian, harapan anak-anak dalam mengembangkan perpustakaannya mendapatkan kendala dalam hal akses buku meskipun mereka sudah berupaya keras mendapatkannya. Oleh karena itu pulalah GALANG SAHABAT didedikasikan pada teman-teman kecil 5 dusun di Desa Sitimulyo tersebut dalam bentuk mengajak masyarakat berpartisipasi mewujudkan impian mereka. Salah satu contoh sederhana yang dapat diwujudkan adalah memberikan buku bacaan bermutu bagi mereka.
RUMAH PELANGI pada WBD ini juga diberi kesempatan untuk menampilkan pertunjukan / happening art berjudul: GATOT BACA pada saat pembukaan Kamis, 26 April, dimana berisi ajakan pada masyarakat untuk selalu membaca dan membaca. Selain itu pula, pada sebuah sesi LITERACY MOVIE pada hari Jumat, 27 April memutar film berjudul ANAK-ANAK ZAMAN. Sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjuangan anak-anak Dusun Ngampon dalam membangun perpustakaan. Mereka secara swadaya berkelompok mewujudkan itu semua.
Pada stand yang ditempati, RUMAH PELANGI menampilkan pula foto-foto kegiatan dengan anak-anak gempa dan juga menampilkan beberapa alat permainan anak-anak tempo dulu, seperti gasing, othok-othok, sirkus kampung, dll. Di samping itu, ada pula suvenir-suvenir kreativitas para relawan yang terlibat seperti halnya: pensil gaul, gelang/kalung, notes, dll.
Pada pintu masuk arena WBD, terdapat 12 karya lukis seorang anggota RUMAH PELANGI, yakni Dini Kamilasari (kelas IV SD) yang dapat dinikmati. Dini sendiri kali ini bersama kedua orangtuanya juga datang dari Muntilan untuk memeriahkan acara yang ada. Pada pembukaan, dia menyumbangkan sebuah lukisan cukup besar berjudul BUKU UNTUK PERUBAHAN untuk Bapak Menteri Pendidikan.
Kali ini jumlah relawan yang berangkat dari Muntilan juga mengalami lonjakan luar biasa, 2 X lipat dari jumlah sebelumnya. 11 orang. Bayangkan? Mereka menabung sedikit demi sedikit hanya demi melihat Jakarta dengan segala keluguannya. Salah seorang relawan, mas Pur, di stand RUMAH PELANGI membuka pula usaha mikro dengan berjualan pulsa elektrik bagi pengunjung, peserta, maupun panitia WBD sehingga memudahkan siapa saja yang kesulitan berkomunikasi karena kehabisan pulsa tanpa meninggalkan ruang. Usaha kecil tersebut diberi nama dengan SRENGENGE. Dalam dua hari ini sudah banyak rekan-rekan dari stand yang lain untuk mempercayakan pengisian pulsanya hanya dengan mengetik: SRENGENGE_spasi_NAMA DIRI_spasi_NAMA STAND dan dikirim ke 0819 1400 5XXX. Cukup sederhana bukan. Tentu saja cukup kreatif pula.
SATU HAL yang paling utama pada stand RUMAH PELANGI adalah adanya sebuah lumbung berbentuk rumah yang didesain untuk memberikan kesempatan pada masyarakat agar berpartisipasi mengembangkan perpustakaan-perpustakaan anak gempa diantaranya dalam bentuk menerima sumbangan buku yang dimasukkan sendiri pada lumbung yang tersedia, lumbung GALANG SAHABAT.
Berkenaan dengan terjadinya bencana alam di sekitar DIY dan Jateng, RUMAH PELANGI melakukan pendampingan di beberapa wilayah yang terkena dampak, dengan beberapa programnya, yakni:
L A N G L A N G N E G E R I
( 1 November 2006 – sekarang )
Merupakan program lanjutan pendampingan anak di 5 dusun (Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, dan Ngablak). Kesemuanya terletak di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul yang berlangsung semenjak 1 November 2006. Kegiatan-kegiatan yang digelar ditujukan pada upaya partisipasi anak dan peningkatan peran serta orang dewasa memberikan akses pada anak-anak.
P O J O K B O C A H
( 7 Juni – 22 Agustus 2006 )
Pasca gempa bumi DIY & Jateng, RUMAH PELANGI bekerja dengan banyak pihak melakukan pendampingan anak di 8 dusun (Dusun Somokaton, Karanganom, Kuden, Cepokojajar, Ngampon, Nganyang, Banyakan/Indrakilo, dan Ngablak). Kesemuanya terletak di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul Kegiatan-kegiatan yang digelar dalam rangka dalam khasanah untuk menghibur dan meningkatkan daya mental anak dalam menghadapi bencana yang telah terjadi
KUMPULE BALUNG PISAH
( 11 Juli 2006 – sekarang )
Selain secara luas menerpa DIY & Klaten, gempa bumi tersebut juga menimpa sebagian kecil wilayah Kabupaten Magelang dimana diantaranya adalah Kecamatan Salam. Bekerja sama dengan YAYASAN TUNAS CENDEKIA pendampingan anak tepatnya di dusun Peden. Kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk menggali pada awalnya adalah psikososial dan dilanjutkan dengan penggalian kreatifitas anak serta potensi anak dalam berperan pada kampungnya.
G U N U N G K U R U M A H K U
( 2 Mei – 27 Mei 2006 )
Peningkatan aktivitas Gunung Merapi di pertengahan April yang menyebabkan warga di kawasan bahaya mengungsi sementara di beberapa tempat penampungan yang disediakan pemerintah setempat. RUMAH PELANGI melakukan kegiatan dengan anak-anak di Tempat Penampungan Akhir Tanjung, yang terletak di Kecamatan Muntilan. Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dari pengelola setempat yakni Dinas Sosial Kabupaten Magelang, FORUM INDONESIA MEMBACA dan 1001 BUKU JAKARTA.
RUMAH PELANGI berdiri pada 7 Maret 2004 oleh sekumpulan pemuda dan memfokuskan dirinya pada pendampingan anak. Selama ini kegiatan rutin berlangsung dengan
anak-anak di Dusun Kadirojo, Desa Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Di tempat yang sama juga merupakan alamat sekretariat komunitas.
Kontak:
GUNAWAN JULIANTO
Sekretariat:
Dusun Kadirojo – Desa Muntilan
Kecamatan Muntilan
JAWA TENGAH 56411
Telpon:
+ 62 818 0272 3030
Email:
RumahPelangi@gmail.com
Blog:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/
Posted by
Rumah Pelangi
at
8:33 PM
0
comments
Subscribe to:
Posts (Atom)