T H X T O P E R T I W I
MERTI PERTIWI yang dilaksanakan RUMAH PELANGI pada tanggal 27 Mei 2007
lalu telah berakhir tanpa halangan berarti. Sungguh suatu hal yang
luar biasa ketika warga Desa Sitimulyo mempercayai kami untuk
melakukan ritual di desa mereka.
Apa sich itu?? Beberapa kawan yang menanyakan apakah itu suatu bentuk
untuk memperingati 1 tahun gempa DIY – Jateng?? Kami semua bersepakat
TIDAAAKKK…. Gempa kok diperingati..
Pada tanggal 27 Mei 2007 di pagi yang cerah kita melakukan penelusuran
pada sepanjang sisi sungai Opak, sungai yang konon satu tahun lalu
merupakan sumber bencana alam. Sebuah penelusuran makna bahwa manusia
akan selamanya menyusu pada alam. Tanpa adanya bencana pun alam pun
kita semua seringkali mendustai kenyataan bahwa kita tergantung
padanya. Kerusakan alam yang terjadi wajib kita perbaiki.
MERTI PERTIWI merupakan penghormatan pada alam. MERTI PERTIWI adalah
ritual pengakuan kita pada kedaulatan alam.
MERTI PERTIWI saat itu (semoga saat lain pula) bersama-sama dengan 90
anak berguru pada alam. Anak-anak tersebut berasal dari 6 dusun di
Desa Sitimulyo (Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, Ngijo, dan
Ngablak). Difasilitasi oleh relawan/wati Rumah Pelangi: Durnomo,
Duryoko, Durgambir, Brahm, Anton, Miris, Rahmat Kar"tolo", Bahar,
Ridwan, Iwan, Desi, Joe the Borneo – Java species, Erni, Dini, Ayu,
Erna, Rina, Temennya Ayu, Yuli, Bendot, Diah, Lina, Bu Guru temennya
mbak Erni, " " (lupa namanya), " " (lupa namanya lagi), Uli, Kendal,
dan teman-teman "cangkingan dadakan yang lain", Sahabat-sahabat dari
Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, Ngijo, Ngablak, Banyakan
III, Karang Ploso, Padangan (thx to mas Bambang Kuden yang mengerahkan
massa riilnya. Tahun depan jadi kepala desa yaaa...) Disamping itu
dukungan mahasiswa/i UGM yang sedang KKN disana juga sangat berarti.
Juga teman-teman dari Universitas Ahmad Dahlan yang bertugas melayani
kesehatan peserta maupun panitia sungguh peran tidak terkira. Tidak
lupa kehadiran rekan-rekan media beberapa hari sebelum sampai sesudah
acara.
Pada awalnya keseluruhan tim berkumpul di TPA Kuden. Tim menjadi 9
regu dimana masing-masing terdiri dari 10 anak. Perjalanan pertama
mereka adalah menuju pos I memutari bukit Petir di dusun Peden dan
membawa beberapa tanaman untuk ditanam di tempat yang ditentukan
sesuai kartu yang diterima.
Di pos I fasilitator telah mempersiapkan permainan air limbah untuk
mengajarkan anak-anak pentingnya memelihara air dari kerusakan karena
racun ataupun limbah yang menyertainya. Pos ini dijaga oleh Bahar,
Kundori, dan Jayadi, fasilitator lokal dari Dusun Nganyang. Tim yang
telah menyelesaikan kegiatannya di pos ini diberi tugas lagi untuk
membawa beberapa tanaman untuk ditanam sesuai kartu yang ada di
batangnya di sepanjang perjalanan menuju pos II..
Di Dusun Padangan, tepatnya di sebelah saluran air (orang setempat
menyebutnya: larik) Gambir, Reni (dari dusun Ngampon) dan beberapa
rekan sudah siap mengguyur anak-anak dengan permainan Menimba Air
dimana bertujuan untuk mengenalkan pentingnya berhemat dan
berhati-hati menjaga air). Setelah canda ria menyelesaikan pos ini,
masing-masing tim lagi-lagi dibekali beberapa tanaman untuk ditanam
menuju pos antara, yakni sebuah arena yang disiapkan untuk mengajak
tim-tim yang sampai di tempat tersebut dengan berbagai permainan yang
keseluruhannya menggunakan bahan baku serat alam. Di pos ini tercatat
ada Desi, Yoko, Yuli, Joe, dll meladeni anak-anak bergembira.
Pos III, uji adrenalin. Adalah mas Acil, warga dusun Kuden yang pakar
di bidang tali-temali. Mas Acil dan asistennya Edi (KKN UGM) selama
dua hari memasang slink (kabel baja) sepanjang 125 meter untuk
memberikan kenikmatan 10 detik, menguji keberanian pada anak-anak:
MELUNCUR DI ATAS SUNGAI OPAK Tentu saja ada beberapa yang belum
memanfaatkan kesempatan ini dan mereka memilih naik mobil memutari
desa menuju pos berikutnya.
Pada perjalanan menuju pos IV ini anak-anak diberi bonus untuk tidak
menanam pohon (hee.heee...heee).Sampai di seberang, dipandu petunjuk
dari daun maupun pelepah, anak-anak dituntun menuju pos IV yang
ditunggu komandan Bambang (lagi-lagi dia) untuk belajar dan mencoba
RAPPLING.
Sambil menunggu kesabaran mas Bambang membimbing anak-anak,
masing-masing tim menanam pohon yang disediakan di sekitar pos itu.
Juga ada permainan LONCAT KODOK (mengurutkan nomer) yang difasilitasi
mbak Erna.
Lepas dari sini, banyak terdengar gelak tawa ketika masing-masing tim
menyusuri LARIK (ingat bahasa lokal itu??) menggunakan BANTING (mutasi
genetik dari BAN BEKAS - RAFTING). Mereka harus pandai-pandai
menyeimbangkan diri dalam tim supaya tidak kejebur sampai ke tempat
finish.
Memangnya seperti apa sich tempat finish??
Tepat di tempat mereka keluar dari air sudah ada "hutan jati" dan
berbagai macam permainan tradisional yang telah disiapkan.
Di tengah hutan ini diselenggarakan festival seni dengan meminimalisir
penggunaan peralatan pabrikan yang digunakan. Tiada panggung yang
digelar, tiada atap yang disiapkan. Instalasi yang digunakan
menggunakan daun-daun kering (thx untuk mas Ngijo - Tugiman atas
instalasi spektakuler nya)... 'Tentu saja listrik, soundsystem masih
diperkenankan ada disini untuk menggemakan acara.
Ketika itu (khan dulu...) teman-teman dari Dusun Kuden, Ngampon,
Ngijo, bergantian pentas tari dan puisi. Bintang tamu yang hadir
adalah teater anak serta tim jimbe dari ANAK WAYANG INDONESIA. Momen
yang spektakuler...
Bagaimana anak-anak bersemangat menyusuri pinggiran sungai sepanjang
kurang lebih 5km itu? Salah satu kuncinya tentu saja pasokan
logistik... disana teman-teman panitia sudah bersepakat bahwa hanya
dihadirkan makanan/kue tradisi yang dibuat oleh ibu-ibu warga
setempat. Minimalkan plastik, tidak diperkenankan produk yang berasal
dari gandum. Ada cerita ketika pagi-pagi, kiriman kue yang datang
setiap bijinya terbungkus rapi dengan plastik. Atas kesadaran bersama,
teman-teman dengan senang hati melepas semua kue tersebut dari plastik
dan membungkus ulang dengan daun pisang. Haa..haa...haa...
Apa sih yang menarik lagi dari MERTI PERTIWI? Masing-masing regu (10
anak) dibekali 1 kamera digital & masing-masing anak dibekali buku dan
peralatan tulis untuk mencatat tugas yang diberikan (thx to PLAN
INDONESIA untuk total 9 kameranya)...
waaau...bikin hardisk langsung penuh nich..
Mau tahu hasil jepretan anak-anak itu? silahkan klik:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/ dan nikmati lokalitas yang ada..
Terima kasih pula kepada teman-teman fotografer Mas Pratanda dkk (Eric
Estrada, Karolus Naga, Hindra, Aul, Titis and Karolin Steiger) yang
dengan senang hati tapi berat beban (kamera) mau mengikuti setiap
langkah anak-anak...
lihat:
http://theauthorisdead.blogspot.com/2007/06/sitimulyo.html
atau coba searching menggunakan kata kunci sitimulyo di:
http://www.fotografer.net/
untuk menikmati keriangan hati anak-anak yang tak terkira..
Bagaimana itu semua bisa terselenggara:
Tidak terkatakan...
Ada teman-teman Sitimulyo yang bersama-sama menggodog acara,
Ada UNICEF, ICMC
Ada hendicam dari PLAN INDONESIA dan RUMAH SINGGAH DIPONEGORO yang
mengiringi langkah bocah...
Penontooonnnn...
dll...
dll...
dll...
lupa namanya...
lupa wajahnya
lupa orangnya...
tidak lupa hatinya....
Sebuah semangat mendorong kami pula melakukan yang terbaik saat itu
karena tanpa diminta pihak Kecamatan Piyungan mengutus seorang
wakilnya untuk ikut pula menelusuri rute melihat anak-anak riang
gembira sampai finish. Pak H. Kadarisman selaku Kepala Desa Sitimulyo
yang panas-panas menunggu di pinggir pematang untuk menyapa anak-anak.
Pamong desa dan dusun yang hadir di tempat finish bergelak tawa
melihat anak-anak memainkan alat permainan ketika mereka kecil..
Sampai... petang datang ketika saat itu kami mengakhiri acara.
MERTI PERTIWI judul kami...
ANAK BERGERAK ALAM SEMARAK motto kami
KESELARASAN ALAM tujuan kami...
Ingin tahu cerita lebih mendalam klik:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/
=========
A testimony . . .
=========
on May 27th 2007, me with some friends; Eric Estrada, Pratanda NR,
Hindra, Aul, Titis and Karolin Steiger went to Kuden, we had a job to
photographed an event. It was the Outbond of Kudens elementary
students, a work of an NGO called Rumah Pelangi with UNICEF. I was
late that moment, i guess it was the worst morning on the whole life
of mine. First I forgot to change my GSM card so that Pratanda was
confuse when he called my XL number, he got mailboxed. Second, I lost
my bike key ... then I have to unplug the power wire. Some guys
thiught that I stole the bike, gee ... !! and finally, I went to wrong
location. I went to Kunden (with "n") not Kuden, where it was about 10
killos from Sitimulyo, so I had to turn back and had to rush coz the
children already leaving the school... it was 9:30 ... the event
started at 7:30 kikikiki
And another funny story with Eric and Hindra also Aul.. when we wanted
to go across the riverside which is only about 10 metres, but we
walked round the hill (about 2 kms) to get there... that moment I told
them "dude, this is what i called OUTBOND!!" .....
Finally, the day was perfect with the request of the day: a song that
will be remembered even when other songs make a platinum or even gold
record.... it was our theme song at Sitimulyo: ok, sing it outloud,
"sitimulyo, sitimulyo, siyimulyo ..... sido mulyo (Hindras version ..
kikikiki)
and another shocking moment when " I LOST MY BIKE" at nite whe we were
about to go home... I said to Eric (whispered at him) "Eric, motor gw
ga ada..." then he replied "yang bener ..." also whispering. that time
I hope someone woke me up from the dream ... I thought I was gonna say
bye to "rere" (my Astra Grand 1997) but some chicks moved it into the
class room so it became more safer... thanks a lot Sis ...
anyway here some picture that I captured with my old school camera,
Nikon F4 and Lucky SHD 100 cheap film that most of them are UE
ahahahaha
lihat: http://theauthorisdead.blogspot.com/2007/06/sitimulyo.html
==============================
MERTI PERTIWI yang dilaksanakan RUMAH PELANGI pada tanggal 27 Mei 2007
lalu telah berakhir tanpa halangan berarti. Sungguh suatu hal yang
luar biasa ketika warga Desa Sitimulyo mempercayai kami untuk
melakukan ritual di desa mereka.
Apa sich itu?? Beberapa kawan yang menanyakan apakah itu suatu bentuk
untuk memperingati 1 tahun gempa DIY – Jateng?? Kami semua bersepakat
TIDAAAKKK…. Gempa kok diperingati..
Pada tanggal 27 Mei 2007 di pagi yang cerah kita melakukan penelusuran
pada sepanjang sisi sungai Opak, sungai yang konon satu tahun lalu
merupakan sumber bencana alam. Sebuah penelusuran makna bahwa manusia
akan selamanya menyusu pada alam. Tanpa adanya bencana pun alam pun
kita semua seringkali mendustai kenyataan bahwa kita tergantung
padanya. Kerusakan alam yang terjadi wajib kita perbaiki.
MERTI PERTIWI merupakan penghormatan pada alam. MERTI PERTIWI adalah
ritual pengakuan kita pada kedaulatan alam.
MERTI PERTIWI saat itu (semoga saat lain pula) bersama-sama dengan 90
anak berguru pada alam. Anak-anak tersebut berasal dari 6 dusun di
Desa Sitimulyo (Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, Ngijo, dan
Ngablak). Difasilitasi oleh relawan/wati Rumah Pelangi: Durnomo,
Duryoko, Durgambir, Brahm, Anton, Miris, Rahmat Kar"tolo", Bahar,
Ridwan, Iwan, Desi, Joe the Borneo – Java species, Erni, Dini, Ayu,
Erna, Rina, Temennya Ayu, Yuli, Bendot, Diah, Lina, Bu Guru temennya
mbak Erni, " " (lupa namanya), " " (lupa namanya lagi), Uli, Kendal,
dan teman-teman "cangkingan dadakan yang lain", Sahabat-sahabat dari
Dusun Somokaton, Kuden, Ngampon, Nganyang, Ngijo, Ngablak, Banyakan
III, Karang Ploso, Padangan (thx to mas Bambang Kuden yang mengerahkan
massa riilnya. Tahun depan jadi kepala desa yaaa...) Disamping itu
dukungan mahasiswa/i UGM yang sedang KKN disana juga sangat berarti.
Juga teman-teman dari Universitas Ahmad Dahlan yang bertugas melayani
kesehatan peserta maupun panitia sungguh peran tidak terkira. Tidak
lupa kehadiran rekan-rekan media beberapa hari sebelum sampai sesudah
acara.
Pada awalnya keseluruhan tim berkumpul di TPA Kuden. Tim menjadi 9
regu dimana masing-masing terdiri dari 10 anak. Perjalanan pertama
mereka adalah menuju pos I memutari bukit Petir di dusun Peden dan
membawa beberapa tanaman untuk ditanam di tempat yang ditentukan
sesuai kartu yang diterima.
Di pos I fasilitator telah mempersiapkan permainan air limbah untuk
mengajarkan anak-anak pentingnya memelihara air dari kerusakan karena
racun ataupun limbah yang menyertainya. Pos ini dijaga oleh Bahar,
Kundori, dan Jayadi, fasilitator lokal dari Dusun Nganyang. Tim yang
telah menyelesaikan kegiatannya di pos ini diberi tugas lagi untuk
membawa beberapa tanaman untuk ditanam sesuai kartu yang ada di
batangnya di sepanjang perjalanan menuju pos II..
Di Dusun Padangan, tepatnya di sebelah saluran air (orang setempat
menyebutnya: larik) Gambir, Reni (dari dusun Ngampon) dan beberapa
rekan sudah siap mengguyur anak-anak dengan permainan Menimba Air
dimana bertujuan untuk mengenalkan pentingnya berhemat dan
berhati-hati menjaga air). Setelah canda ria menyelesaikan pos ini,
masing-masing tim lagi-lagi dibekali beberapa tanaman untuk ditanam
menuju pos antara, yakni sebuah arena yang disiapkan untuk mengajak
tim-tim yang sampai di tempat tersebut dengan berbagai permainan yang
keseluruhannya menggunakan bahan baku serat alam. Di pos ini tercatat
ada Desi, Yoko, Yuli, Joe, dll meladeni anak-anak bergembira.
Pos III, uji adrenalin. Adalah mas Acil, warga dusun Kuden yang pakar
di bidang tali-temali. Mas Acil dan asistennya Edi (KKN UGM) selama
dua hari memasang slink (kabel baja) sepanjang 125 meter untuk
memberikan kenikmatan 10 detik, menguji keberanian pada anak-anak:
MELUNCUR DI ATAS SUNGAI OPAK Tentu saja ada beberapa yang belum
memanfaatkan kesempatan ini dan mereka memilih naik mobil memutari
desa menuju pos berikutnya.
Pada perjalanan menuju pos IV ini anak-anak diberi bonus untuk tidak
menanam pohon (hee.heee...heee).Sampai di seberang, dipandu petunjuk
dari daun maupun pelepah, anak-anak dituntun menuju pos IV yang
ditunggu komandan Bambang (lagi-lagi dia) untuk belajar dan mencoba
RAPPLING.
Sambil menunggu kesabaran mas Bambang membimbing anak-anak,
masing-masing tim menanam pohon yang disediakan di sekitar pos itu.
Juga ada permainan LONCAT KODOK (mengurutkan nomer) yang difasilitasi
mbak Erna.
Lepas dari sini, banyak terdengar gelak tawa ketika masing-masing tim
menyusuri LARIK (ingat bahasa lokal itu??) menggunakan BANTING (mutasi
genetik dari BAN BEKAS - RAFTING). Mereka harus pandai-pandai
menyeimbangkan diri dalam tim supaya tidak kejebur sampai ke tempat
finish.
Memangnya seperti apa sich tempat finish??
Tepat di tempat mereka keluar dari air sudah ada "hutan jati" dan
berbagai macam permainan tradisional yang telah disiapkan.
Di tengah hutan ini diselenggarakan festival seni dengan meminimalisir
penggunaan peralatan pabrikan yang digunakan. Tiada panggung yang
digelar, tiada atap yang disiapkan. Instalasi yang digunakan
menggunakan daun-daun kering (thx untuk mas Ngijo - Tugiman atas
instalasi spektakuler nya)... 'Tentu saja listrik, soundsystem masih
diperkenankan ada disini untuk menggemakan acara.
Ketika itu (khan dulu...) teman-teman dari Dusun Kuden, Ngampon,
Ngijo, bergantian pentas tari dan puisi. Bintang tamu yang hadir
adalah teater anak serta tim jimbe dari ANAK WAYANG INDONESIA. Momen
yang spektakuler...
Bagaimana anak-anak bersemangat menyusuri pinggiran sungai sepanjang
kurang lebih 5km itu? Salah satu kuncinya tentu saja pasokan
logistik... disana teman-teman panitia sudah bersepakat bahwa hanya
dihadirkan makanan/kue tradisi yang dibuat oleh ibu-ibu warga
setempat. Minimalkan plastik, tidak diperkenankan produk yang berasal
dari gandum. Ada cerita ketika pagi-pagi, kiriman kue yang datang
setiap bijinya terbungkus rapi dengan plastik. Atas kesadaran bersama,
teman-teman dengan senang hati melepas semua kue tersebut dari plastik
dan membungkus ulang dengan daun pisang. Haa..haa...haa...
Apa sih yang menarik lagi dari MERTI PERTIWI? Masing-masing regu (10
anak) dibekali 1 kamera digital & masing-masing anak dibekali buku dan
peralatan tulis untuk mencatat tugas yang diberikan (thx to PLAN
INDONESIA untuk total 9 kameranya)...
waaau...bikin hardisk langsung penuh nich..
Mau tahu hasil jepretan anak-anak itu? silahkan klik:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/ dan nikmati lokalitas yang ada..
Terima kasih pula kepada teman-teman fotografer Mas Pratanda dkk (Eric
Estrada, Karolus Naga, Hindra, Aul, Titis and Karolin Steiger) yang
dengan senang hati tapi berat beban (kamera) mau mengikuti setiap
langkah anak-anak...
lihat:
http://theauthorisdead.blogspo
atau coba searching menggunakan kata kunci sitimulyo di:
http://www.fotografer.net/
untuk menikmati keriangan hati anak-anak yang tak terkira..
Bagaimana itu semua bisa terselenggara:
Tidak terkatakan...
Ada teman-teman Sitimulyo yang bersama-sama menggodog acara,
Ada UNICEF, ICMC
Ada hendicam dari PLAN INDONESIA dan RUMAH SINGGAH DIPONEGORO yang
mengiringi langkah bocah...
Penontooonnnn...
dll...
dll...
dll...
lupa namanya...
lupa wajahnya
lupa orangnya...
tidak lupa hatinya....
Sebuah semangat mendorong kami pula melakukan yang terbaik saat itu
karena tanpa diminta pihak Kecamatan Piyungan mengutus seorang
wakilnya untuk ikut pula menelusuri rute melihat anak-anak riang
gembira sampai finish. Pak H. Kadarisman selaku Kepala Desa Sitimulyo
yang panas-panas menunggu di pinggir pematang untuk menyapa anak-anak.
Pamong desa dan dusun yang hadir di tempat finish bergelak tawa
melihat anak-anak memainkan alat permainan ketika mereka kecil..
Sampai... petang datang ketika saat itu kami mengakhiri acara.
MERTI PERTIWI judul kami...
ANAK BERGERAK ALAM SEMARAK motto kami
KESELARASAN ALAM tujuan kami...
Ingin tahu cerita lebih mendalam klik:
http://www.rumahpelangi.blogspot.com/
=========
A testimony . . .
=========
on May 27th 2007, me with some friends; Eric Estrada, Pratanda NR,
Hindra, Aul, Titis and Karolin Steiger went to Kuden, we had a job to
photographed an event. It was the Outbond of Kudens elementary
students, a work of an NGO called Rumah Pelangi with UNICEF. I was
late that moment, i guess it was the worst morning on the whole life
of mine. First I forgot to change my GSM card so that Pratanda was
confuse when he called my XL number, he got mailboxed. Second, I lost
my bike key ... then I have to unplug the power wire. Some guys
thiught that I stole the bike, gee ... !! and finally, I went to wrong
location. I went to Kunden (with "n") not Kuden, where it was about 10
killos from Sitimulyo, so I had to turn back and had to rush coz the
children already leaving the school... it was 9:30 ... the event
started at 7:30 kikikiki
And another funny story with Eric and Hindra also Aul.. when we wanted
to go across the riverside which is only about 10 metres, but we
walked round the hill (about 2 kms) to get there... that moment I told
them "dude, this is what i called OUTBOND!!" .....
Finally, the day was perfect with the request of the day: a song that
will be remembered even when other songs make a platinum or even gold
record.... it was our theme song at Sitimulyo: ok, sing it outloud,
"sitimulyo, sitimulyo, siyimulyo ..... sido mulyo (Hindras version ..
kikikiki)
and another shocking moment when " I LOST MY BIKE" at nite whe we were
about to go home... I said to Eric (whispered at him) "Eric, motor gw
ga ada..." then he replied "yang bener ..." also whispering. that time
I hope someone woke me up from the dream ... I thought I was gonna say
bye to "rere" (my Astra Grand 1997) but some chicks moved it into the
class room so it became more safer... thanks a lot Sis ...
anyway here some picture that I captured with my old school camera,
Nikon F4 and Lucky SHD 100 cheap film that most of them are UE
ahahahaha
lihat: http://theauthorisdead.blogspo
==============================
Ingin tahu cerita lebih lanjut...kami masih punya TLATAH BOCAH...
sebuah Hajat Budaya.... dari Anak oleh Anak untuk Semua...
datang dan hadiri pada tanggal 1 - 2 Agustus 2007 di Dusun Gowok Pos,
Desa Sengi, NEGERI MERAPI...
sebuah dusun yang tahun lalu sebagian warganya meninggalkan
kampungnya karena sebuah kata: M E L E T U S
0 comments:
Post a Comment